Selasa, 12 Februari 2013

[Proyek Teenlit] - 3



| 3 – Batas Toleransi

Keesokan harinya, begitu Melanika berpapasan dengan Kerwin di depan pintu ruangan Kepala Jurusan—persis pukul sembilan pagi lewat tiga puluh menit, cowok itu langsung membuang muka. Dia mengetuk pintu ruangan mendahului Melanika, yang dibiarkan saja oleh cewek itu. Melan sama sekali tidak keberatan terhadap sikap bermusuhan Kerwin. Jadi dia bakal lebih banyak ngomong dalam pertemuan yang ga jelas tujuannya ini. Baguslah. Melan tidak akan terlalu banyak membuang energi. Lagipula, karena Kerwin cukup pintar, harusnya apapun itu yang mau dibicarakan sang Kepala Jurusan bisa cepat selesai, jadi Melan bisa segera kembali ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu bersama laptopnya.

Terdengar suara samar berbicara dengan bahasa Mandarin dari dalam. “Masuk.”

Kerwin masuk duluan. Melanika mengekor di belakangnya. “Jiangshi zao an,” sapa Kerwin sambil membungkuk hormat.

“Pagi, Pak,” sapa Melan berikutnya. Sengaja, karena dia tahu dengan cara itu entah bagaimana Kerwin akan jadi kesal.

Hari ini, Pak Wei Lian nampak lebih kusut lagi. Tidak sulit menyimpulkan bahwa kemarin dia mengalami sisa hari yang berat. Wajahnya nampak berkeringat meski ruangan ini dilengkapi sebuah AC. Tata rambutnya yang selalu disisir klimis hari ini tak serapi biasanya.

“Ah, Kerwin, Melanika... Silakan duduk,” katanya, mendongak dari atas beberapa lembar kertas yang sedang dibolak-baliknya.

Melanika penasaran bagaimana hasil rapat kemarin, mengingat si Kepala Jurusan sudah sampai berteriak di sana. Dilihat dari gerak-geriknya, Kerwin juga ingin menanyakan sesuatu. Namun akhirnya, mereka hanya duduk diam menunggu Pak Wei Lian bicara lagi.

“Ini,” katanya kemudian, menyodorkan lembaran kertas itu pada mereka berdua.

Melanika membiarkan Kerwin mengambilnya, lalu dia sendiri mencondongkan badan untuk mengintip. Cowok itu masih bersikeras tidak mau bersitatap dengan Melan, tapi wajahnya berubah kaku.

“Proposal penutupan prodi dari Rektorat.”

Mendengarnya, Melanika dan Kerwin berhenti mempedulikan satu sama lain. Selama beberapa saat, keduanya sibuk memelototi proposal itu halaman demi halaman.

Tak lama, Kerwin mengajukan pertanyaan. “Pak, apakah jurusan kita jadi...”

“Hasil rapat kemarin menentukan bahwa untuk saat ini, kita harus bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk,” jelasnya tanpa menunggu sang mahasiswa menyelesaikan pertanyaannya.

“Kemungkinan terburuk, berarti belum bisa dipastikan?” tukas Melanika tajam.

“Ya,” sahut sang Kepala Jurusan. “Tapi bukan berarti keadaan menjadi lebih baik. Penutupan sebuah prodi biasanya memakan waktu paling sedikit dua tahun. Saat ini, sudah ada proposal, dan juga pembicaraan mengenai penutupan. Itu berarti prosesnya sebenarnya sudah berjalan.”

“Selama itu?” Kerwin malah keheranan.

“Sekaligus menanggapi pertanyaan kamu kemarin,” ujar Pak Wei Lian, mengarahkan pembicaraan pada Melanika, “sementara berlangsungnya proses penutupan secara teknis, waktu dua tahun juga dipakai untuk menunggu mahasiswa tingkat tiga dan empat menyelesaikan studi mereka.”

“Lalu kami... mahasiswa tingkat satu dan dua, Pak?” Kerwin bertanya lagi.

“Belum ada kejelasan soal itu. Tapi untuk sementara, kemungkinan kalian akan dipindahkan ke jurusan lain di fakultas yang sama.”

“Bagaimana kalau kami tidak ingin dipindahkan?”  tanya Melanika cepat-cepat.

Pak Wei Lian memperhatikan mahasiswinya itu sejenak sebelum menjawab. Gambaran kecemasan di raut wajah anak perempuan itu, yang sejauh ini belum pernah dilihatnya, membuatnya prihatin.

“Kami akan berusaha menawarkan pilihan terbaik yang bisa kami berikan,” katanya. “Bisa kami pindahkan ke universitas lain yang memiliki jurusan yang sama, atau ke fakultas lain yang bidangnya lebih kamu sukai. Jangan khawatir.”

Pundak Melanika yang tadinya tegang menjadi turun. Meski tidak sepenuhnya melegakan, setidaknya dia bisa sedikit lebih tenang. Kalau sebelumnya menjadi mahasiswi dengan IPK tertinggi di tingkatannya tidak lantas membuat keluarganya puas, tidak akan ada satupun orang di rumahnya yang akan menerima kalau dia tidak berada di jurusan Bahasa Mandarin.

“Kalian berdua kelihatannya cemas,” kata sang Kepala Jurusan lagi. “Yang saya rasa wajar, mengingat kalian berdua adalah mahasiswa dengan nilai terbaik di angkatan kalian. Butuh usaha keras untuk mencapai prestasi itu, dan ternyata keadaan malah seperti sekarang.”

Melanika merasa dia mendengar Kerwin mendengus sinis di sebelahnya, yang kemudian berusaha dia abaikan. Dasar bocah dengki.

“Tapi kita belum sepenuhnya hilang harapan,” katanya lagi. “Masih ada waktu dua tahun—mungkin kurang, sebelum penutupan, dan semuanya masih belum pasti.”

Sampai sini, Pak Wei Lian sedikit tersenyum. Tidak begitu menghibur, karena bagi Melanika, di wajah asimetris yang pada dasarnya tak ramah itu, senyuman malah bisa memberi efek sebaliknya. Namun fakta bahwa Pak Wei Lian mencoba tersenyum saja entah bagaimana memberi mereka firasat baik, kalau memang masih ada sesuatu yang bisa dilakukan.

“Sebenarnya, ini sebabnya saya ingin berbicara dengan kalian berdua pagi ini,” katanya panjang lebar. “Saya yakin masih ada yang bisa kita perbuat untuk mencegah penutupan itu, dan saya pikir saya bisa mempercayai kalian berdua untuk melakukannya.”

Kami berdua?” sembur Kerwin, terang-terangan menyatakan ketidaksukaan terhadap ide bekerjasama dengan Melanika. Kali ini, Melanika harus mengakui kalau dia juga sebenarnya tidak terlalu menyukai ide tersebut. Bekerja dengan Kerwin pasti akan menguras energi sama banyaknya seperti mengurus balita yang kurang ajar.

“Ya, toh saya rasa di antara para mahasiswa, seharusnya kalian yang paling termotivasi untuk mengemban tugas ini—karena alasan yang sudah saya kemukakan tadi,” katanya bersemangat, salah menafsirkan keengganan Kerwin sebagai ketidakpercayaan diri.

Menyadari antusiasme pria itu, Kerwin nampak berusaha duduk tenang di kursinya. Mulutnya bergerak-gerak tak nyaman, seolah dia sedang menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang pasti tak enak didengar.

“Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanya Melanika pasrah, meski dia membenci ide dirinya yang harus bekerja keras demi sesuatu. Bersama Kerwin pula. Tapi mana mungkin dia menolak, jika memang ada sesuatu yang dapat diperbuat untuk mencegah penutupan prodi. Sekalipun dia yang harus turun tangan.

“Ah, jadi begini,” ujar Pak Wei Lian memulai, “menurut pandangan kalian sebagai mahasiswa, apa yang menyebabkan pihak Rektorat mempertimbangkan untuk menutup jurusan kita?”

Keduanya berpikir sesaat.

“Tanpa bermaksud apapun,” kata Kerwin hati-hati, “karena jumlah peminat dan mahasiswa yang sedikit, masalah akreditasi, serta prestasi keseluruhan mahasiswa yang biasa saja?”

Pak Wei Lian bergumam. “Hmmm... ya, memang ada alasan-alasan itu, dan semuanya cukup krusial,” komentarnya setuju. “Tapi ada hal lain yang paling membuat mereka mempertimbangkan penutupan. Terpikirkah kalian?”

“Soal eksistensi?” Melanika menduga.

“Maksudnya?” Sekali ini, Kerwin langsung mengkonfrontasi idenya.

Melan menjawab sabar, “Maksudnya, menurut saya, jurusan kita tidak kedengaran suaranya. Setiap kali saya bertemu anak dari fakultas lain, lalu mereka menanyakan saya di fakultas atau jurusan mana, dan saya menjawab FKIP Bahasa Mandarin... reaksi mereka kurang lebih seperti ini: ‘FKIP itu apa?’ atau ‘Emangnya ada FKIP Bahasa Mandarin? Kok gue baru tahu?’ dan sebagainya.”

Dugaannya memancing anggukkan dari sang Kepala Jurusan. “Bagus. Nah, menurut kalian, kenapa bisa begitu?”

“...mungkin karena universitas kita berstatus swasta,” gumam Kerwin pada dirinya sendiri seperti sedang mengingat-ingat. “Orang-orang yang ingin jadi guru biasanya mendaftar di universitas negeri supaya bisa langsung menjadi PNS. Itu menjelaskan kenapa hanya sedikit yang tahu soal FKIP. Mengenai prodi Bahasa Mandarin sendiri...”

“Sementara di antara enam jurusan FKIP sendiri, jurusan kita yang jumlah anaknya paling sedikit,” sambung Melanika. “Benar begitu, Pak?”

“Ya, itu memang benar,” ujar Pak Wei Lian muram. “Meski berstatus swasta, FKIP yang sudah ada semenjak berdirinya universitas adalah salah satu fakultas kebanggaan. Dari sebab itu, sepuluh tahun yang lalu, para petinggi Fakultas memutuskan untuk mencoba membuka prodi Bahasa Mandarin, dengan pertimbangan bahwa saat ini bahasa tersebut sedang banyak diminati. Lalu seperti yang kalian tahu, selama sepuluh tahun prodi baru kita berusaha membuktikan diri, tapi serba sulit dengan keadaan dan anggapan masyarakat yang seperti sekarang...”

Maksudnya, dia yang berusaha membuktikan diri sebagai Kajur, Melanika membatin kasihan.

“...tapi menurut saya, kita belum gagal,” lanjut sang Kepala Jurusan. Badannya dicondongkan pada kedua mahasiswa di hadapannya, menandakan kalimatnya yang berikut adalah inti dari seluruh perkataannya hari ini. “Kita hanya belum diberi banyak kesempatan untuk menegaskan eksistensi kita.”

Selepas dia mengatakan ini, Melanika mulai tak sabar akan omongannya yang berbelit-belit. Dia paham kalau dirinya akan diminta melakukan sesuatu yang besar dengan membawa nama jurusan, tapi dia masih tak punya gambaran mengenai ide macam apa yang tengah disimpan pria itu. Diam-diam, diliriknya Kerwin di kursi sebelah. Cowok pendek itu masih terlihat asyik berpikir sendiri. Barangkali Kerwin yang (sepertinya) lebih aktif mengikuti kegiatan keorganisasian sudah lebih punya bayangan daripada dia.

“Jadi pada dasarnya,” dia mencoba menyimpulkan supaya bisa menghemat waktu, “yang perlu kita lakukan adalah, meyakinkan para petinggi universitas bahwa mereka hanya perlu memberi kita kesempatan untuk melakukan pembuktian diri? Dan kita akan membuat mereka mempertimbangkannya dengan cara mempertegas eksistensi kita?”

“Tepat sekali!” seru Pak Wei Lian bersemangat. “Mengenai masalah banyak sedikitnya peminat, akreditasi, ataupun rata-rata prestasi mahasiswa, saya rasa semua akan meningkat dengan sendirinya jika kita bekerja keras. Sebab saya rasa semua itu butuh proses yang tidak sebentar. Sepuluh tahun mungkin belum cukup.”

Akhirnya Kerwin mendongak, menahan napas.

“Kalau begitu... saya—kami berdua harus melakukan sesuatu yang bisa mengangkat nama prodi ini?” Matanya bersinar antara ragu dan antusias. Tapi Melanika malah kecewa karena cowok itu baru memahami inti perkataan sang Kajur sekarang. Seharusnya dia lebih meremehkan Kerwin daripada ini.

“Ya, kurang lebih itu maksud saya.”

“Bagaimana caranya?” tanya cowok itu penasaran. “Bapak punya ide?”

“Tentu, jika tidak, saya tak akan memanggil kalian kemari,” seloroh pria itu sambil terkekeh. “Sebenarnya, saya terpikir untuk mengadakan suatu event atas nama jurusan. Berskala besar—dalam artian target peserta dari mulai anak-anak jurusan kita sendiri sampai orang-orang di luar universitas. Dan kalian berdua, akan jadi ketua dan wakil ketua panitianya.”

Antusiasme, semangat, bayangan kesuksesan, atau apapun itu—langsung lenyap dari wajah Kerwin begitu dia mendengarnya. Si bocah itu mengerling Melanika dengan ekspresi horor, lalu berkata cepat-cepat.

“Kami jadi ketua dan wakilnya?!” Dia meledak, berdiri, lalu gelagapan. “Maksud saya—haruskah begitu, Pak?”

“Ya, kan saya sudah bilang,” tukas Pak Wei Lian, mengerutkan dahi melihat reaksinya yang terlampau ganjil. “Atau... kalian tidak suka saling bekerjasama?”

Ditanya secara langsung seperti itu, Kerwin malah kelihatan salah tingkah. Atas dorongan berbuat usil, Melanika terbatuk-batuk dengan sengaja. Dari sudut matanya, cowok itu balas meliriknya dengan tatapan terganggu. Menanggapinya, Melan mengangkat dagu, memberinya tatapan menantang. Langit tahu betapa malasnya dia bekerjasama dengan cowok itu, tapi dia tidak akan bersikap kekanakan dan mundur merajuk—hanya karena dia tidak menyukai Kerwin.

“Tidak, Pak,” kata cowok itu pasrah, duduk kembali. “Saya tidak bermasalah dengan itu.”

Pak Wei Lian menelengkan kepalanya, memperhatikan mereka bergantian, seakan dia masih curiga. Tapi sepertinya dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh soal keganjilan barusan.

Suasana entah bagaimana sudah naik beberapa tingkat lebih alot, ketika sang Kepala Jurusan bertanya memastikan, “Jadi bagaimana? Apakah kalian menerima tanggung jawab ini?”

“Ya,” sahut Melanika kalem.

Kerwin butuh sepersekian detik lebih lambat untuk mengatakan “Ya.”

“Baiklah,” pungkas Pak Wei Lian, nampak cukup puas dengan perkembangan situasi. “Kalau begitu, siapa yang baiknya saya beri tanggung jawab lebih sebagai ketua?”

Sebelum lawannya sempat mengatakan sesuatu, Melanika menunjuk, “Kerwin saja.”

Mendengar namanya disebut oleh cewek itu, Kerwin menoleh dengan terkejut.

“Karena dia rajin,” lanjut Melan seperti menyindir, “terus juga... sangat bersemangat.”

“O-oi, lu...”

“Lagipula, saya tidak punya pengalaman berorganisasi.”

Pak Wei Lian tertawa mendengar cara Melanika mendeksripsikan mahasiswa itu. Wajah Kerwin berubah warna, tapi Melan yakin dia tak akan menolak. Saat ini dia memperkirakan, jika Melanika yang jadi ketua, maka Kerwin akan lebih benci lagi padanya, serta semakin sulit diajak berkoordinasi. Tapi dengan begini, keadaannya adil. Karena Kerwin memang pada dasarnya ambisius, sedangkan Melan juga bukannya ingin jadi ketua. Kedengarannya terlalu merepotkan.

“Baik, baik, Kerwin ketuanya, kalau begitu,” tandasnya. “Bagaimana, Kerwin? Sanggup?”

Dengan wajah masih tertunduk kesal, Kerwin mengangguk.

“Tapi saya masih tidak punya bayangan, Pak,” akunya belakangan.

“Oh ya, soal spesifikasi acaranya ya,” kata Pak Wei Lian dengan menimbang-nimbang. “Hal itu sepenuhnya saya serahkan pada kalian saja, bagaimana? Kalian berdua pikirkan beberapa pilihan konsep dasar acara, lalu minggu depan di waktu yang sama, laporkan lagi pada saya.”

“Lebih dari satu?” Melanika memastikan pendengarannya.

“Ya, supaya ada beberapa pilihan, jadi kita bisa berdiskusi bersama memilih yang paling sesuai,” jelas Pak Wei Lian lagi. “Karena targetnya luas, pikirkan konsep yang unik tapi cukup general untuk menarik perhatian orang-orang dari segala kalangan, oke? Dan jangan lupa—ini penting. Temanya harus disesuaikan dengan identitas kita.”

Mereka mengangguk mengerti.

“Oke, itu saja dulu mengenai tema. Mengenai susunan kepanitiaan dan rekrutmen, saya anjurkan kalian membicarakannya dengan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan kalian. Kalian kenal?”

Tentu saja, kali ini Melanika menggeleng. Sedangkan Kerwin kembali mengangguk.

“Kak Sander?”

“Nama lengkapnya Aleksander Adriel, mahasiswa tingkat tiga. Saya sudah menjelaskan persoalan kita ini padanya, jadi kalian tinggal bilang padanya kalau saya memilih kalian untuk memimpin kepanitiaan. Selanjutnya, dia yang akan membantu kalian,” katanya panjang lebar. “Ada pertanyaan lagi?”

Melanika melirik Kerwin, yang juga tengah meliriknya. Cewek itu cuma mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. Untuk seterusnya, dia akan membiarkan Kerwin yang mengambil kendali sebagai ketua.

“Jadi kami akan menemui Bapak lagi minggu depan, hari Rabu jam setengah sepuluh?”

“Ya.”

“Dengan beberapa ide konsep acara?”

“Benar sekali.”

Dari gelagatnya, nampak jelas bahwa pembicaraan mereka hari ini sudah mencapai penghabisan. Akhirnya, Melanika membatin. Rasanya dia sudah mumet sekali dengan semua urusan yang tiba-tiba ini. Isu penutupan prodi, dirinya yang diserahi tanggung jawab untuk mengadakan acara besar yang membawa nama jurusan, dan harus bekerja sama dengan si bocah Kerwin.

“Kalau begitu, kami permisi, Pak.” Akhirnya Kerwin mohon diri setelah berlama-lama lagi memastikan bahwa dia tidak salah mengerti.

“Ya, terima kasih atas kesedian kalian,” pungkas sang Kepala Jurusan. “Sampai ketemu minggu depan. Setidaknya, pada saat itu saya harap kalian sudah membentuk BPH kepanitiaan yang utuh.”

***

Kerwin terbengong-bengong begitu pintu sekretariat menutup di belakangnya. Sedikit banyak, dia bangga diserahi tanggung jawab menjalankan acara sebesar ini. Besar, dalam artian tujuan maupun skalanya. Namun pada saat bersamaan, firasatnya mengatakan, ini tidak akan mudah. Tapi lagi, dia ingin berhasil. Lagipula, ini adalah kesempatan baginya. Bayangkan berapa poin imajiner yang akan dimenangkannya dari Melanika jika berhasil melangsungkan acara ini. Belum lagi kemungkinan tawaran-tawaran dan kenalan yang akan dia peroleh setelahnya...

Tapi juga, ironisnya, dia terpaksa membutuhkan Melanika. Tak peduli betapapun dia menyesali ketidakberuntungan ini, Melanika sudah ditunjuk sebagai wakilnya. Dia harus bekerjasama dengan cewek itu, karena tidak mungkin Kerwin memulai hal sebesar ini sendirian. Bahkan sekalipun dia memang pemuda yang gigih dengan masa depan menjanjikan seperti bagaimana dia sendiri menganggapnya, tetap saja—sebaiknya dia tidak sembrono mengerjakan semuanya sendirian.

Terdengar suara orang menguap keras, agak jauh di balik punggung Ker.

“Hei!”

Melanika, yang sudah berjalan tanpa pamit ke arah sebaliknya, berhenti untuk menoleh.

“Situ manggil?”

“Lu mau kemana?”

“Ngapain nanya-nanya?”

“Kita harus ngomongin soal ini!” seru Kerwin, tak percaya cewek itu masih bertanya.

“Mesti sekarang ya?” Melanika bertanya lirih. Wajahnya menunjukkan segala tanda-tanda kemalasan.

“Ya, sekarang!” kata Kerwin setegas yang dia bisa. Grah, belum apa-apa saja dia sudah harus ngotot seperti ini, apalagi nanti.

Melanika memperhatikan Kerwin nyaris tanpa ekspresi, menyebabkan cowok itu berusaha tidak kehilangan wibawa dibuatnya. Sejujurnya, itu hal yang agak sukar, mengingat pada dasarnya Kerwin sepuluh senti lebih pendek. Sedangkan cewek itu nampak sangat mengintimidasi baginya—terutama dengan tatapan dingin, serta kunciran rambutnya yang membuatnya lebih tinggi lagi sekitar tiga senti.

“Energi lu kok nggak kunjung habis ya?” komentarnya. Kerwin tahu itu bukan pujian. “Kalo gue sih udah capek dengerin ocehan tadi, jadi mau istirahat dulu. Bye, Kerwin.”

“Lucu. Gimana caranya lu bisa capek cuma gara-gara ngedengerin orang sambil nyeletuk sekali-kali?”

“Ocehannya bikin gue ngantuk. Makanya percuma juga ngomong sekarang soalnya gue nggak akan konsentrasi. Besok-besok aja ya, dadaaah.”

“Nggak, nggak bisa, harus hari ini. Kalo besok, lu bakalan keburu kabur.”

“Hahaha,” Melanika tertawa datar. “Kok tahu?”

Dan kesabaran Kerwin pun surut sampai kering sepenuhnya. Oh ya, sekarang dia benar-benar kesal. Sebenarnya, dia bukannya tak paham mengapa cewek itu menunjuknya menjadi ketua. Tapi kalau Melanika berpikir dia bisa lepas dari tanggung jawab dengan cara menyerahkan semua pada Kerwin, maka dia salah besar.

“Jangan mimpi lu bisa lepas tangan dari ini,” ancamnya galak.

“Dengan lu sebagai ketuanya, gue sih udah tau,” kata Melanika sambil separuh bergumam.

“Tadinya gue pikir lu seenggaknya peduli karena prodi kita terancam ditutup, tapi ternyata gue menilai lu terlalu tinggi..” Dia ingat sempat berpikir bisa sedikit mengandalkan Melanika ketika dia melihatnya menolak dipindahkan ke jurusan lain. Sayangnya, pemikirannya terbukti sebagai harapan kosong. Pun setelah mengatakan kalimat tajam menusuk barusan, Kerwin masih sedikit berharap Melanika akan menyesal.

“Ya ampun, gue kan cuma bilang lagi ngantuk. Kenapa sih lu jahat banget kayak pawang romusha?”

Merasa malah dibercandai, Kerwin meledak. “Gue serius tau!”

“Gue juga.”

Kerwin menahan napas. Enak saja dia dibilang pawang romusha. Baru saja dia membuka mulut untuk balik mengatai cewek itu, Melanika mendahuluinya lagi.

“Orang nggak selalu seperti apa yang kita sangka.”

Sederet kalimat yang diucapkannya membuat Ker tertegun. Diucapkan dengan semacam tatapan lurus menghujam, kata-kata itu seakan memintanya untuk berpikir. Apakah Melanika sedang membicarakan bagaimana Ker memperlakukannya? Memprotesnya? Mengkritik? Apapun itu, selama sejenak, Kerwin merasa dia hampir menangkap maksudnya.

Dia jadi malu pada dirinya sendiri—bukan karena dia merasa bersalah, melainkan karena dia sadar bahwa dia terburu-buru melakukan pendekatan untuk meminta cewek ini bekerja. Melanika pastinya sadar bahwa dia dibenci Kerwin sejak awal. Saat ini, mereka saling tidak menyukai. Itu semacam hal tak terungkapkan yang keduanya sama-sama tahu.

Bukan salah siapa-siapa kalau mereka begitu berbeda. Melanika bilang mengantuk, sebenarnya bisa saja bukan karena dia tidak peduli—melainkan karena itulah Melanika. Dia tidak pernah bekerja keras. Dia tidak suka berusaha keras demi sesuatu, sehingga penundaan untuk menuruti keinginan tubuhnya sendiri bukanlah suatu hal yang buruk baginya. Sedangkan bagi Kerwin, hal semacam itu tidak termaafkan. Tapi apakah dengan memaksakan caranya pada cewek itu Ker akan mendapat hasil kerja yang memuaskan? Nggak mungkin. Ada terlalu banyak perasaan negatif di antara keduanya untuk itu.

Pada intinya, harusnya dia sudah tahu bahwa Melanika akan mengelak kalau dia memaksanya menggunakan cara seperti barusan. Kalau mereka mau berkoordinasi dengan baik, barangkali dibutuhkan toleransi dalam batasan tertentu di antara keduanya.

“Besok,” ujarnya memulai, “mungkin sekitar jam satu siang, gue bakal ke ruangan HMJ buat nemuin ketuanya. Terserah mau ikut hadir atau engga.”

Dan setelah mengatakannya, Kerwin berbalik pergi. Hah. Dengan begini, dia tidak perlu mengejar-ngejar cewek itu seperti sangat membutuhkannya. Toh Kerwin yakin dia bisa memimpin sendirian. Lagipula, dia kan ketuanya. Sendirian juga berarti Kerwin akan mendapat lebih banyak pengakuan dibanding Melanika, nanti begitu acara mereka sukses. Tapi, kalau cewek itu punya kesadaran sedikit aja, harusnya sih dia dateng.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar