| 3 – Batas Toleransi
Keesokan harinya, begitu Melanika berpapasan dengan
Kerwin di depan pintu ruangan Kepala Jurusan—persis pukul sembilan pagi lewat
tiga puluh menit, cowok itu langsung membuang muka. Dia mengetuk pintu ruangan mendahului
Melanika, yang dibiarkan saja oleh cewek itu. Melan sama sekali tidak keberatan
terhadap sikap bermusuhan Kerwin. Jadi
dia bakal lebih banyak ngomong dalam pertemuan yang ga jelas tujuannya ini.
Baguslah. Melan tidak akan terlalu banyak membuang energi. Lagipula, karena
Kerwin cukup pintar, harusnya apapun itu yang mau dibicarakan sang Kepala
Jurusan bisa cepat selesai, jadi Melan bisa segera kembali ke perpustakaan
untuk menghabiskan waktu bersama laptopnya.
Terdengar suara samar berbicara dengan bahasa Mandarin dari
dalam. “Masuk.”
Kerwin masuk duluan. Melanika mengekor di belakangnya. “Jiangshi zao an,” sapa Kerwin sambil
membungkuk hormat.
“Pagi, Pak,” sapa Melan berikutnya. Sengaja, karena dia
tahu dengan cara itu entah bagaimana Kerwin akan jadi kesal.
Hari ini, Pak Wei Lian nampak lebih kusut lagi. Tidak
sulit menyimpulkan bahwa kemarin dia mengalami sisa hari yang berat. Wajahnya
nampak berkeringat meski ruangan ini dilengkapi sebuah AC. Tata rambutnya yang
selalu disisir klimis hari ini tak serapi biasanya.
“Ah, Kerwin, Melanika... Silakan duduk,” katanya,
mendongak dari atas beberapa lembar kertas yang sedang dibolak-baliknya.
Melanika penasaran bagaimana hasil rapat kemarin,
mengingat si Kepala Jurusan sudah sampai berteriak di sana. Dilihat dari
gerak-geriknya, Kerwin juga ingin menanyakan sesuatu. Namun akhirnya, mereka
hanya duduk diam menunggu Pak Wei Lian bicara lagi.
“Ini,” katanya kemudian, menyodorkan lembaran kertas itu
pada mereka berdua.
Melanika membiarkan Kerwin mengambilnya, lalu dia sendiri
mencondongkan badan untuk mengintip. Cowok itu masih bersikeras tidak mau
bersitatap dengan Melan, tapi wajahnya berubah kaku.
“Proposal penutupan prodi dari Rektorat.”
Mendengarnya, Melanika dan Kerwin berhenti mempedulikan
satu sama lain. Selama beberapa saat, keduanya sibuk memelototi proposal itu
halaman demi halaman.
Tak lama, Kerwin mengajukan pertanyaan. “Pak, apakah
jurusan kita jadi...”
“Hasil rapat kemarin menentukan bahwa untuk saat ini,
kita harus bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk,” jelasnya tanpa menunggu
sang mahasiswa menyelesaikan pertanyaannya.
“Kemungkinan terburuk, berarti belum bisa dipastikan?” tukas
Melanika tajam.
“Ya,” sahut sang Kepala Jurusan. “Tapi bukan berarti
keadaan menjadi lebih baik. Penutupan sebuah prodi biasanya memakan waktu
paling sedikit dua tahun. Saat ini, sudah ada proposal, dan juga pembicaraan
mengenai penutupan. Itu berarti prosesnya sebenarnya sudah berjalan.”
“Selama itu?” Kerwin malah keheranan.
“Sekaligus menanggapi pertanyaan kamu kemarin,” ujar Pak
Wei Lian, mengarahkan pembicaraan pada Melanika, “sementara berlangsungnya
proses penutupan secara teknis, waktu dua tahun juga dipakai untuk menunggu
mahasiswa tingkat tiga dan empat menyelesaikan studi mereka.”
“Lalu kami... mahasiswa tingkat satu dan dua, Pak?”
Kerwin bertanya lagi.
“Belum ada kejelasan soal itu. Tapi untuk sementara,
kemungkinan kalian akan dipindahkan ke jurusan lain di fakultas yang sama.”
“Bagaimana kalau kami tidak ingin dipindahkan?” tanya Melanika cepat-cepat.
Pak Wei Lian memperhatikan mahasiswinya itu sejenak
sebelum menjawab. Gambaran kecemasan di raut wajah anak perempuan itu, yang
sejauh ini belum pernah dilihatnya, membuatnya prihatin.
“Kami akan berusaha menawarkan pilihan terbaik yang bisa
kami berikan,” katanya. “Bisa kami pindahkan ke universitas lain yang memiliki
jurusan yang sama, atau ke fakultas lain yang bidangnya lebih kamu sukai.
Jangan khawatir.”
Pundak Melanika yang tadinya tegang menjadi turun. Meski
tidak sepenuhnya melegakan, setidaknya dia bisa sedikit lebih tenang. Kalau
sebelumnya menjadi mahasiswi dengan IPK tertinggi di tingkatannya tidak lantas
membuat keluarganya puas, tidak akan ada satupun orang di rumahnya yang akan
menerima kalau dia tidak berada di jurusan Bahasa Mandarin.
“Kalian berdua kelihatannya cemas,” kata sang Kepala
Jurusan lagi. “Yang saya rasa wajar, mengingat kalian berdua adalah mahasiswa
dengan nilai terbaik di angkatan kalian. Butuh usaha keras untuk mencapai
prestasi itu, dan ternyata keadaan malah seperti sekarang.”
Melanika merasa dia mendengar Kerwin mendengus sinis di
sebelahnya, yang kemudian berusaha dia abaikan. Dasar bocah dengki.
“Tapi kita belum sepenuhnya hilang harapan,” katanya
lagi. “Masih ada waktu dua tahun—mungkin kurang, sebelum penutupan, dan semuanya
masih belum pasti.”
Sampai sini, Pak Wei Lian sedikit tersenyum. Tidak begitu
menghibur, karena bagi Melanika, di wajah asimetris yang pada dasarnya tak
ramah itu, senyuman malah bisa memberi efek sebaliknya. Namun fakta bahwa Pak
Wei Lian mencoba tersenyum saja entah bagaimana memberi mereka firasat baik,
kalau memang masih ada sesuatu yang bisa dilakukan.
“Sebenarnya, ini sebabnya saya ingin berbicara dengan
kalian berdua pagi ini,” katanya panjang lebar. “Saya yakin masih ada yang bisa
kita perbuat untuk mencegah penutupan itu, dan saya pikir saya bisa mempercayai
kalian berdua untuk melakukannya.”
“Kami berdua?”
sembur Kerwin, terang-terangan menyatakan ketidaksukaan terhadap ide
bekerjasama dengan Melanika. Kali ini, Melanika harus mengakui kalau dia juga
sebenarnya tidak terlalu menyukai ide tersebut. Bekerja dengan Kerwin pasti akan
menguras energi sama banyaknya seperti mengurus balita yang kurang ajar.
“Ya, toh saya rasa di antara para mahasiswa, seharusnya
kalian yang paling termotivasi untuk mengemban tugas ini—karena alasan yang
sudah saya kemukakan tadi,” katanya bersemangat, salah menafsirkan keengganan
Kerwin sebagai ketidakpercayaan diri.
Menyadari antusiasme pria itu, Kerwin nampak berusaha
duduk tenang di kursinya. Mulutnya bergerak-gerak tak nyaman, seolah dia sedang
menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang pasti tak enak didengar.
“Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanya Melanika pasrah,
meski dia membenci ide dirinya yang harus bekerja keras demi sesuatu. Bersama
Kerwin pula. Tapi mana mungkin dia menolak, jika memang ada sesuatu yang dapat
diperbuat untuk mencegah penutupan prodi. Sekalipun dia yang harus turun
tangan.
“Ah, jadi begini,” ujar Pak Wei Lian memulai, “menurut
pandangan kalian sebagai mahasiswa, apa yang menyebabkan pihak Rektorat mempertimbangkan
untuk menutup jurusan kita?”
Keduanya berpikir sesaat.
“Tanpa bermaksud apapun,” kata Kerwin hati-hati, “karena
jumlah peminat dan mahasiswa yang sedikit, masalah akreditasi, serta prestasi
keseluruhan mahasiswa yang biasa saja?”
Pak Wei Lian bergumam. “Hmmm... ya, memang ada
alasan-alasan itu, dan semuanya cukup krusial,” komentarnya setuju. “Tapi ada
hal lain yang paling membuat mereka mempertimbangkan penutupan. Terpikirkah
kalian?”
“Soal eksistensi?” Melanika menduga.
“Maksudnya?” Sekali ini, Kerwin langsung mengkonfrontasi
idenya.
Melan menjawab sabar, “Maksudnya, menurut saya, jurusan
kita tidak kedengaran suaranya. Setiap kali saya bertemu anak dari fakultas
lain, lalu mereka menanyakan saya di fakultas atau jurusan mana, dan saya menjawab
FKIP Bahasa Mandarin... reaksi mereka kurang lebih seperti ini: ‘FKIP itu apa?’
atau ‘Emangnya ada FKIP Bahasa Mandarin? Kok gue baru tahu?’ dan sebagainya.”
Dugaannya memancing anggukkan dari sang Kepala Jurusan. “Bagus.
Nah, menurut kalian, kenapa bisa begitu?”
“...mungkin karena universitas kita berstatus swasta,”
gumam Kerwin pada dirinya sendiri seperti sedang mengingat-ingat. “Orang-orang
yang ingin jadi guru biasanya mendaftar di universitas negeri supaya bisa
langsung menjadi PNS. Itu menjelaskan kenapa hanya sedikit yang tahu soal FKIP.
Mengenai prodi Bahasa Mandarin sendiri...”
“Sementara di antara enam jurusan FKIP sendiri, jurusan
kita yang jumlah anaknya paling sedikit,” sambung Melanika. “Benar begitu,
Pak?”
“Ya, itu memang benar,” ujar Pak Wei Lian muram. “Meski berstatus
swasta, FKIP yang sudah ada semenjak berdirinya universitas adalah salah satu
fakultas kebanggaan. Dari sebab itu, sepuluh tahun yang lalu, para petinggi
Fakultas memutuskan untuk mencoba membuka prodi Bahasa Mandarin, dengan
pertimbangan bahwa saat ini bahasa tersebut sedang banyak diminati. Lalu
seperti yang kalian tahu, selama sepuluh tahun prodi baru kita berusaha
membuktikan diri, tapi serba sulit dengan keadaan dan anggapan masyarakat yang
seperti sekarang...”
Maksudnya, dia yang berusaha membuktikan diri sebagai Kajur, Melanika membatin kasihan.
“...tapi menurut saya, kita belum gagal,” lanjut sang
Kepala Jurusan. Badannya dicondongkan pada kedua mahasiswa di hadapannya,
menandakan kalimatnya yang berikut adalah inti dari seluruh perkataannya hari
ini. “Kita hanya belum diberi banyak kesempatan untuk menegaskan eksistensi
kita.”
Selepas dia mengatakan ini, Melanika mulai tak sabar akan
omongannya yang berbelit-belit. Dia paham kalau dirinya akan diminta melakukan
sesuatu yang besar dengan membawa nama jurusan, tapi dia masih tak punya
gambaran mengenai ide macam apa yang tengah disimpan pria itu. Diam-diam,
diliriknya Kerwin di kursi sebelah. Cowok pendek itu masih terlihat asyik
berpikir sendiri. Barangkali Kerwin yang (sepertinya) lebih aktif mengikuti
kegiatan keorganisasian sudah lebih punya bayangan daripada dia.
“Jadi pada dasarnya,” dia mencoba menyimpulkan supaya
bisa menghemat waktu, “yang perlu kita lakukan adalah, meyakinkan para petinggi
universitas bahwa mereka hanya perlu memberi kita kesempatan untuk melakukan
pembuktian diri? Dan kita akan membuat mereka mempertimbangkannya dengan cara
mempertegas eksistensi kita?”
“Tepat sekali!” seru Pak Wei Lian bersemangat. “Mengenai
masalah banyak sedikitnya peminat, akreditasi, ataupun rata-rata prestasi
mahasiswa, saya rasa semua akan meningkat dengan sendirinya jika kita bekerja
keras. Sebab saya rasa semua itu butuh proses yang tidak sebentar. Sepuluh
tahun mungkin belum cukup.”
Akhirnya Kerwin mendongak, menahan napas.
“Kalau begitu... saya—kami berdua harus melakukan sesuatu
yang bisa mengangkat nama prodi ini?” Matanya bersinar antara ragu dan
antusias. Tapi Melanika malah kecewa karena cowok itu baru memahami inti
perkataan sang Kajur sekarang. Seharusnya dia lebih meremehkan Kerwin daripada
ini.
“Ya, kurang lebih itu maksud saya.”
“Bagaimana caranya?” tanya cowok itu penasaran. “Bapak
punya ide?”
“Tentu, jika tidak, saya tak akan memanggil kalian
kemari,” seloroh pria itu sambil terkekeh. “Sebenarnya, saya terpikir untuk
mengadakan suatu event atas nama
jurusan. Berskala besar—dalam artian target peserta dari mulai anak-anak
jurusan kita sendiri sampai orang-orang di luar universitas. Dan kalian berdua,
akan jadi ketua dan wakil ketua panitianya.”
Antusiasme, semangat, bayangan kesuksesan, atau apapun
itu—langsung lenyap dari wajah Kerwin begitu dia mendengarnya. Si bocah itu
mengerling Melanika dengan ekspresi horor, lalu berkata cepat-cepat.
“Kami jadi ketua dan wakilnya?!” Dia meledak, berdiri, lalu
gelagapan. “Maksud saya—haruskah begitu, Pak?”
“Ya, kan saya sudah bilang,” tukas Pak Wei Lian, mengerutkan
dahi melihat reaksinya yang terlampau ganjil. “Atau... kalian tidak suka saling
bekerjasama?”
Ditanya secara langsung seperti itu, Kerwin malah kelihatan
salah tingkah. Atas dorongan berbuat usil, Melanika terbatuk-batuk dengan
sengaja. Dari sudut matanya, cowok itu balas meliriknya dengan tatapan
terganggu. Menanggapinya, Melan mengangkat dagu, memberinya tatapan menantang.
Langit tahu betapa malasnya dia bekerjasama dengan cowok itu, tapi dia tidak
akan bersikap kekanakan dan mundur merajuk—hanya karena dia tidak menyukai
Kerwin.
“Tidak, Pak,” kata cowok itu pasrah, duduk kembali. “Saya
tidak bermasalah dengan itu.”
Pak Wei Lian menelengkan kepalanya, memperhatikan mereka
bergantian, seakan dia masih curiga. Tapi sepertinya dia memutuskan untuk tidak
bertanya lebih jauh soal keganjilan barusan.
Suasana entah bagaimana sudah naik beberapa tingkat lebih
alot, ketika sang Kepala Jurusan bertanya memastikan, “Jadi bagaimana? Apakah
kalian menerima tanggung jawab ini?”
“Ya,” sahut Melanika kalem.
Kerwin butuh sepersekian detik lebih lambat untuk
mengatakan “Ya.”
“Baiklah,” pungkas Pak Wei Lian, nampak cukup puas dengan
perkembangan situasi. “Kalau begitu, siapa yang baiknya saya beri tanggung
jawab lebih sebagai ketua?”
Sebelum lawannya sempat mengatakan sesuatu, Melanika
menunjuk, “Kerwin saja.”
Mendengar namanya disebut oleh cewek itu, Kerwin menoleh
dengan terkejut.
“Karena dia rajin,” lanjut Melan seperti menyindir,
“terus juga... sangat bersemangat.”
“O-oi, lu...”
“Lagipula, saya tidak punya pengalaman berorganisasi.”
Pak Wei Lian tertawa mendengar cara Melanika
mendeksripsikan mahasiswa itu. Wajah Kerwin berubah warna, tapi Melan yakin dia
tak akan menolak. Saat ini dia memperkirakan, jika Melanika yang jadi ketua,
maka Kerwin akan lebih benci lagi padanya, serta semakin sulit diajak berkoordinasi.
Tapi dengan begini, keadaannya adil. Karena Kerwin memang pada dasarnya
ambisius, sedangkan Melan juga bukannya ingin jadi ketua. Kedengarannya terlalu merepotkan.
“Baik, baik, Kerwin ketuanya, kalau begitu,” tandasnya.
“Bagaimana, Kerwin? Sanggup?”
Dengan wajah masih tertunduk kesal, Kerwin mengangguk.
“Tapi saya masih tidak punya bayangan, Pak,” akunya
belakangan.
“Oh ya, soal spesifikasi acaranya ya,” kata Pak Wei Lian
dengan menimbang-nimbang. “Hal itu sepenuhnya saya serahkan pada kalian saja,
bagaimana? Kalian berdua pikirkan beberapa pilihan konsep dasar acara, lalu
minggu depan di waktu yang sama, laporkan lagi pada saya.”
“Lebih dari satu?” Melanika memastikan pendengarannya.
“Ya, supaya ada beberapa pilihan, jadi kita bisa
berdiskusi bersama memilih yang paling sesuai,” jelas Pak Wei Lian lagi.
“Karena targetnya luas, pikirkan konsep yang unik tapi cukup general untuk menarik perhatian
orang-orang dari segala kalangan, oke? Dan jangan lupa—ini penting. Temanya
harus disesuaikan dengan identitas kita.”
Mereka mengangguk mengerti.
“Oke, itu saja dulu mengenai tema. Mengenai susunan
kepanitiaan dan rekrutmen, saya anjurkan kalian membicarakannya dengan ketua Himpunan
Mahasiswa Jurusan kalian. Kalian kenal?”
Tentu saja, kali ini Melanika menggeleng. Sedangkan Kerwin
kembali mengangguk.
“Kak Sander?”
“Nama lengkapnya Aleksander Adriel, mahasiswa tingkat tiga.
Saya sudah menjelaskan persoalan kita ini padanya, jadi kalian tinggal bilang
padanya kalau saya memilih kalian untuk memimpin kepanitiaan. Selanjutnya, dia
yang akan membantu kalian,” katanya panjang lebar. “Ada pertanyaan lagi?”
Melanika melirik Kerwin, yang juga tengah meliriknya.
Cewek itu cuma mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. Untuk seterusnya, dia akan
membiarkan Kerwin yang mengambil kendali sebagai ketua.
“Jadi kami akan menemui Bapak lagi minggu depan, hari
Rabu jam setengah sepuluh?”
“Ya.”
“Dengan beberapa ide konsep acara?”
“Benar sekali.”
Dari gelagatnya, nampak jelas bahwa pembicaraan mereka hari
ini sudah mencapai penghabisan. Akhirnya,
Melanika membatin. Rasanya dia sudah mumet sekali dengan semua urusan yang
tiba-tiba ini. Isu penutupan prodi, dirinya yang diserahi tanggung jawab untuk
mengadakan acara besar yang membawa nama jurusan, dan harus bekerja sama dengan
si bocah Kerwin.
“Kalau begitu, kami permisi, Pak.” Akhirnya Kerwin mohon
diri setelah berlama-lama lagi memastikan bahwa dia tidak salah mengerti.
“Ya, terima kasih atas kesedian kalian,” pungkas sang
Kepala Jurusan. “Sampai ketemu minggu depan. Setidaknya, pada saat itu saya
harap kalian sudah membentuk BPH kepanitiaan yang utuh.”
***
Kerwin terbengong-bengong begitu pintu sekretariat
menutup di belakangnya. Sedikit banyak, dia bangga diserahi tanggung jawab
menjalankan acara sebesar ini. Besar, dalam artian tujuan maupun skalanya.
Namun pada saat bersamaan, firasatnya mengatakan, ini tidak akan mudah. Tapi
lagi, dia ingin berhasil. Lagipula, ini adalah kesempatan baginya. Bayangkan
berapa poin imajiner yang akan dimenangkannya dari Melanika jika berhasil
melangsungkan acara ini. Belum lagi kemungkinan tawaran-tawaran dan kenalan
yang akan dia peroleh setelahnya...
Tapi juga, ironisnya, dia terpaksa membutuhkan Melanika.
Tak peduli betapapun dia menyesali ketidakberuntungan ini, Melanika sudah
ditunjuk sebagai wakilnya. Dia harus bekerjasama dengan cewek itu, karena tidak
mungkin Kerwin memulai hal sebesar ini sendirian. Bahkan sekalipun dia memang
pemuda yang gigih dengan masa depan menjanjikan seperti bagaimana dia sendiri
menganggapnya, tetap saja—sebaiknya dia tidak sembrono mengerjakan semuanya
sendirian.
Terdengar suara orang menguap keras, agak jauh di balik
punggung Ker.
“Hei!”
Melanika, yang sudah berjalan tanpa pamit ke arah
sebaliknya, berhenti untuk menoleh.
“Situ manggil?”
“Lu mau kemana?”
“Ngapain nanya-nanya?”
“Kita harus ngomongin soal ini!” seru Kerwin, tak percaya
cewek itu masih bertanya.
“Mesti sekarang ya?” Melanika bertanya lirih. Wajahnya
menunjukkan segala tanda-tanda kemalasan.
“Ya, sekarang!” kata Kerwin setegas yang dia bisa. Grah, belum apa-apa saja dia sudah harus
ngotot seperti ini, apalagi nanti.
Melanika memperhatikan Kerwin nyaris tanpa ekspresi,
menyebabkan cowok itu berusaha tidak kehilangan wibawa dibuatnya. Sejujurnya,
itu hal yang agak sukar, mengingat pada dasarnya Kerwin sepuluh senti lebih
pendek. Sedangkan cewek itu nampak sangat mengintimidasi baginya—terutama
dengan tatapan dingin, serta kunciran rambutnya yang membuatnya lebih tinggi
lagi sekitar tiga senti.
“Energi lu kok nggak kunjung habis ya?” komentarnya. Kerwin
tahu itu bukan pujian. “Kalo gue sih udah capek dengerin ocehan tadi, jadi mau
istirahat dulu. Bye, Kerwin.”
“Lucu. Gimana caranya lu bisa capek cuma gara-gara
ngedengerin orang sambil nyeletuk sekali-kali?”
“Ocehannya bikin gue ngantuk. Makanya percuma juga
ngomong sekarang soalnya gue nggak akan konsentrasi. Besok-besok aja ya, dadaaah.”
“Nggak, nggak bisa, harus hari ini. Kalo besok, lu
bakalan keburu kabur.”
“Hahaha,” Melanika tertawa datar. “Kok tahu?”
Dan kesabaran Kerwin pun surut sampai kering sepenuhnya.
Oh ya, sekarang dia benar-benar kesal. Sebenarnya, dia bukannya tak paham mengapa
cewek itu menunjuknya menjadi ketua. Tapi kalau Melanika berpikir dia bisa
lepas dari tanggung jawab dengan cara menyerahkan semua pada Kerwin, maka dia
salah besar.
“Jangan mimpi lu bisa lepas tangan dari ini,” ancamnya
galak.
“Dengan lu sebagai ketuanya, gue sih udah tau,” kata
Melanika sambil separuh bergumam.
“Tadinya gue pikir lu seenggaknya peduli karena prodi
kita terancam ditutup, tapi ternyata gue menilai lu terlalu tinggi..” Dia ingat
sempat berpikir bisa sedikit mengandalkan Melanika ketika dia melihatnya
menolak dipindahkan ke jurusan lain. Sayangnya, pemikirannya terbukti sebagai
harapan kosong. Pun setelah mengatakan kalimat tajam menusuk barusan, Kerwin masih
sedikit berharap Melanika akan menyesal.
“Ya ampun, gue kan cuma bilang lagi ngantuk. Kenapa sih
lu jahat banget kayak pawang romusha?”
Merasa malah dibercandai, Kerwin meledak. “Gue serius
tau!”
“Gue juga.”
Kerwin menahan napas. Enak saja dia dibilang pawang
romusha. Baru saja dia membuka mulut untuk balik mengatai cewek itu, Melanika
mendahuluinya lagi.
“Orang nggak selalu seperti apa yang kita sangka.”
Sederet kalimat yang diucapkannya membuat Ker tertegun.
Diucapkan dengan semacam tatapan lurus menghujam, kata-kata itu seakan
memintanya untuk berpikir. Apakah Melanika sedang membicarakan bagaimana Ker
memperlakukannya? Memprotesnya? Mengkritik? Apapun itu, selama sejenak, Kerwin
merasa dia hampir menangkap maksudnya.
Dia jadi malu pada dirinya sendiri—bukan karena dia
merasa bersalah, melainkan karena dia sadar bahwa dia terburu-buru melakukan
pendekatan untuk meminta cewek ini bekerja. Melanika pastinya sadar bahwa dia
dibenci Kerwin sejak awal. Saat ini, mereka saling tidak menyukai. Itu semacam
hal tak terungkapkan yang keduanya sama-sama tahu.
Bukan salah siapa-siapa kalau mereka begitu berbeda.
Melanika bilang mengantuk, sebenarnya bisa saja bukan karena dia tidak peduli—melainkan
karena itulah Melanika. Dia tidak pernah bekerja keras. Dia tidak suka berusaha
keras demi sesuatu, sehingga penundaan untuk menuruti keinginan tubuhnya
sendiri bukanlah suatu hal yang buruk baginya. Sedangkan bagi Kerwin, hal
semacam itu tidak termaafkan. Tapi apakah dengan memaksakan caranya pada cewek
itu Ker akan mendapat hasil kerja yang memuaskan? Nggak mungkin. Ada terlalu banyak perasaan negatif di antara
keduanya untuk itu.
Pada intinya, harusnya dia sudah tahu bahwa Melanika akan
mengelak kalau dia memaksanya menggunakan cara seperti barusan. Kalau mereka
mau berkoordinasi dengan baik, barangkali dibutuhkan toleransi dalam batasan
tertentu di antara keduanya.
“Besok,” ujarnya memulai, “mungkin sekitar jam satu
siang, gue bakal ke ruangan HMJ buat nemuin ketuanya. Terserah mau ikut hadir
atau engga.”
Dan setelah mengatakannya, Kerwin berbalik pergi. Hah. Dengan begini, dia tidak perlu
mengejar-ngejar cewek itu seperti sangat membutuhkannya. Toh Kerwin yakin dia
bisa memimpin sendirian. Lagipula, dia kan ketuanya. Sendirian juga berarti
Kerwin akan mendapat lebih banyak pengakuan dibanding Melanika, nanti begitu
acara mereka sukses. Tapi, kalau cewek
itu punya kesadaran sedikit aja, harusnya sih dia dateng.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar