| 2 – Kabar Buruk
“Deng Deng!”
Melanika berjalan cepat-cepat menerobos lautan manusia di
sepanjang jalanan kantin. Wajahnya yang berkulit pucat nampak berkeringat
ketika dia berhenti di hadapan salah satu meja yang ditadahi payung. Sesosok
laki-laki tambun duduk di bawahnya. Badannya begitu besar sehingga kursi kayu
yang didudukinya berderit, seolah mengeluh tak mampu menopang penghuninya. Di
sebelahnya, seorang anak perempuan dengan rambut diikat dua longgar duduk
manis.
Begitu menyadari kedatangan Melanika, cewek ini
mendongak, mengeluarkan “Oh!” pelan lalu agak menegakkan punggungnya.
Gerakan tersebut menarik perhatian si laki-laki juga.
Maka dia berpaling, menunjukkan wajahnya yang merah dan basah oleh air mata.
“Melan!” panggilnya.
“Sori, aku baru baca sms kamu.” Melan memutari meja, lalu
duduk di seberangnya—di sebelah anak perempuan berkuncir. Dia menarik napas
sebentar, menaruh tasnya yang kopong, nyaris hanya berisi laptop di atas meja.
“Jadi bener, kamu dipanggil PA lagi?”
“Kok tahu?” Deng Deng mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya
yang basah.
Tentu saja Melan tahu. Terakhir kali Deng Deng yang
tinggi dan besar menangis seperti anak bayi di hadapannya, urusan yang dia
hadapi juga menyangkut Pembimbing Akademiknya, yang lain tak bukan adalah sang
Kepala Jurusan yang menakutkan—Wei Lian-jiangshi.
“Ya tahu lah,” jawab Melan pendek. “Pergi sana, sekarang.
Selesain secepetnya.”
“Tapi, tapi...”
Deng Deng nampak ketakutan, membuat Melan tak tega.
Memang, sangat berlawanan dengan penampilannya, seniornya yang satu ini agak
bermasalah dengan sikapnya yang lembek kekanakan. Tapi Melan tahu bahwa Deng
Deng adalah anak yang berhati baik. Justru saking baiknya, dia jadi sensitif
nan cengeng.
Dia bukannya tidak tahu kenapa Deng Deng takut sekali
menerima panggilan dari sang Kepala Jurusan. Terakhir kali dia dipanggil ke
ruangan dosen yang menjadi PA-nya tersebut, Deng Deng berakhir dibentak-bentak
serta dipermalukan sampai menangis menggerung-gerung di tempat. Memang, Deng
Deng bukan mahasiswa yang cakap. Meski harusnya dia setingkat lebih tinggi di
atas Melan, ada banyak mata kuliah yang gagal dilewatinya. Nah, rupanya
kesabaran sang Ketua Jurusan telah mencapai batas ketika dia mendapat laporan,
bahwa anak bimbingannya sendiri hanya lolos dua mata kuliah dari total delapan
yang diambilnya semester lalu.
Bagi mahasiswa jurusan FKIP Bahasa Mandarin yang
jumlahnya tak sampai seratus di universitas ini, gagal melewati satu mata
kuliah saja sudah merupakan hal yang memalukan. Mengingat hanya ada kurang
lebih dua puluh anak dalam satu tingkatan, semua mahasiswa yang setingkat akan
selalu sekelas. Jika ada yang tidak lulus, rasanya hampir seperti tidak naik
kelas di sekolah dulu. Orang tersebut harus menanggung malu dengan bergabung di
kelas para mahasiswa junior. Kurang lebih begitulah yang terjadi dengan Deng
Deng.
Melan masih ingat, semester lalu, Deng Deng bergabung
dengan angkatannya (waktu itu mereka masih tingkat satu). Badannya yang besar,
dan tentu saja sikapnya yang gelisah, membuatnya langsung jadi bulan-bulanan.
Karena kebetulan Melan juga sendirian, akhirnya dia jadi satu-satunya orang
yang mengajak Deng Deng bicara di kelas.
“Emangnya menurut kamu, kenapa kamu dipanggil?” tanya
Melan penuh selidik.
“Apalagi?” Deng Deng balik bertanya suram. “Pasti soal
UTS-ku.”
“Oh.”
Kemudian Melanika bungkam. Pengalaman memberitahunya,
bahwa mahasiswa seperti dia baiknya tidak mencoba menghibur orang-orang yang
mengalami kesulitan soal nilai. Mau seperti apapun, jatuhnya pasti salah.
“Kalo gitu, ayo.” Melanika memutuskan. “Kutemenin sampai
depan ruangannya deh.”
“Kamu mau? Beneran?” Deng Deng menatapnya penuh terima
kasih.
“Semester depan, aku nggak mau lagi loh.”
“Ya, ya, aku tahu kok!” sahutnya, terdengar sedikit lebih
bersemangat. Cowok itu berdiri, tanpa sengaja menjatuhkan kursi ke belakang
dalam prosesnya. “Ups.”
Mahasiswi yang sejak tadi diam di sebelah Melanika berjongkok
untuk membenarkan posisi benda tersebut. “Makasih ya, kak Melan.” Sepasang bola
matanya yang sipit, berbinar ramah terasa tak asing.
“Siapa ya?”
“Ah iya, aku sibuk galau sampai lupa,” tukas Deng Deng
sambil menepuk kepalanya sendiri. “Ini adikku, Shui Xian. Dia di jurusan kita
juga. Maba, tingkat satu. Shui Xian,
ini Melan yang sering aku ceritain.”
Cewek itu menyorongkan tangan kanannya untuk memberi
salam perkenalan. Melanika menyambutnya. Deng Deng tidak pernah cerita kalau
semester ini adiknya bergabung dalam jurusan mereka. Ditambah lagi, Shui
Xian—meski karakter wajahnya serupa dengan Deng Deng, secara keseluruhan
terlihat sangat berbeda dengan kakaknya. Postur tubuh cewek itu mungil, dengan
aura lembut dan dewasa terpancar dari tiap gerak-geriknya.
“Sebenernya aku yang tadinya mau nemenin gege,” katanya. Suaranya nyaring tapi enak
didengar. “Tapi setengah jam lagi aku harus ikut pertemuan Nir Wana, dan
rasanya nggak enak kalau terlambat, padahal masih anggota baru. Untung ada kak
Melan.” Nir Wana adalah nama saluran radio kepunyaan fakultas mereka, yang
dikelola oleh para mahasiswa.
“Oooh...”
“Yaudah, kalau begitu aku duluan ya,” katanya sambil bangkit
berdiri juga. Namun sebelum pergi, dia menoleh kepada Deng Deng. Seketika itu
juga nadanya berubah menjadi lebih tegas.
“Ge, jangan ngerepotin kak Melan ya! Kan kamu yang dapet
nilai jelek, jadi kamu emang udah sepantasnya kena marah lagi.”
Deng Deng mengkerut di bawah tatapan dingin adiknya.
“Iya, iya... tahu kok.”
“Daaah!”
“Sampai nanti,” sahut sang kakak.
“Bye,” sahut Melan pendek.
Beberapa saat kemudian, dia dan Deng Deng berjalan cepat dalam
diam. Melanika di depan. Deng Deng di belakang. Demi kepentingan orang-orang
yang berlalu lalang di sepanjang koridor gedung kampus, Melan rasa tidak baik
kalau dia berjalan beriringan dengan satu-satunya teman baiknya di kampus itu.
“Deng Deng,” panggil Melanika begitu mereka sudah tiba di
muka pintu ruangan sekretariat FKIP. Entah sejak kapan, cowok itu malah berdiri
diam beberapa meter di belakang. Gemetaran. “Ayolah!”
“M-mati deh aku... Gimana nih, kali ini dia pasti bunuh
aku...”
“Jangan konyol. Itu mah ilegal.”
“Tapi... tapi.... nilai Grammar-ku beneran ancur lebur...”
Melanika berdecak tak sabar. Dengan langkah-langkah
lebar, ditariknya cowok itu sampai ke dalam ruangan sekretariat. Deng Deng
tidak memberontak, tapi dia juga tak sanggup berjalan sendiri tanpa gemetaran.
Orang-orang di dalam, para petugas sekretariat, menoleh ke arah mereka—sebagian
karena sosok si mahasiswa yang mencolok, sebagian karena cara berjalan mereka tidak
biasa.
“Bai Deng Deng,” panggil salah satu petugas dari balik
meja kerjanya. “Kamu ditungguin Pak Wei Lian di dalam ruangannya.”
“S-saya memang datang untuk menemui beliau, Pak,” cicit
Deng Deng sambil membiarkan Melanika menyeretnya masuk semakin ke dalam.
Melanika sendiri hanya mengangguk hormat ke arah para petugas di sepanjang
celah dari meja ke meja.
“Lah, pantesan aja pake diseret-seret,” komentar salah
satu petugas lainnya, tampak geli melihat mereka berdua. Sepertinya insiden
menangisnya Deng Deng di ruangan Kepala Jurusan sudah diketahui oleh umum.
Wajar saja, kalau mengingat betapa keras suara tangisannya waktu itu.
Mereka berdua berjalan melewati sepasang pintu kaca di
pojok kanan ruangan. Pintu ini adalah pembatas antara ruangan sekretariat dan
area para dosen tetap serta petinggi fakultas. Begitu pintu dibuka, terlihat
lorong panjang berisi banyak pintu menuju ruang-ruang pribadi mereka. Tujuan
Deng Deng dan Melanika adalah ruangan Kepala Jurusan, tapi sebelumnya, mereka
harus melalui bagian terbuka di tengah lorong, tempat meja-meja dosen honorer
diletakkan dalam barisan yang lebih rapi dibanding barisan meja para petugas
sekretariat.
Dengung pembicaraan juga merebak di sini. Namun tidak
seperti di kelas, nada pembicaraan yang melingkupi tempat ini entah bagaimana
terasa menimbulkan hawa dingin mencekam. Khas dosen. Bagi Melanika, sederhana
saja, bagian kampus yang ini dipenuhi dengan aura pendidik yang kental. Makanya
hawanya seperti itu.
“Oh, hai Melanika!”
Melanika bingung mendengar namanya disebut di tempat ini dengan
nada yang begitu.... informal. Dia
membalikkan badan. Bagian tengah lorong nampak sepi. Hanya ada dua dosen di
sana, yaitu seorang laki-laki paruh baya yang tak dikenalnya karena belum
pernah diajar, dan Lilly-jiangshi di meja tengah-tengah. Di depan mejanya,
berdiri dua orang mahasiswa. Salah satunya terlihat sedang terlibat pembicaraan
serius dengan sang dosen.
“...jadi begitu, semoga kamu paham. Arah goresan yang
salah, akibatnya bisa fatal dan mengubah maknanya menjadi berbeda. Meski secara
keseluruhan, saya paham memang huruf ini yang kamu maksud, saya tetap tidak
bisa membenarkan jawaban kamu karena alasan itu.”
“Tapi bisakah saya setidaknya mendapat tambahan setengah
poin karena sudah menuliskan pinyin-nya
dengan benar?”
Sampai detik itu, keduanya sudah menyadari kehadiran dua
orang lain di ruangan tersebut. Melanika masih diam dengan dahi berkerut.
Kenapa teman setingkatnya yang—seingatnya—bernama Andrei Wicaksana ini
menyapanya dengan begitu ramah, padahal mereka nyaris tidak pernah bicara satu
sama lain? Mana di tempat ini pula. Lilly-jiangshi melongok ke arah Melanika
dan Deng Deng, begitu juga mahasiswa yang tengah berbicara dengannya—yang
langsung terkesiap ngeri begitu melihat Melanika.
Begitu menyadari siapa orangnya, kedua alis Melanika
terangkat tanpa mampu ditahan-tahan.
Meski wajahnya datar, jarang menunjukkan emosi, Melanika
sebenarnya sangat peka dalam mengenali orang-orang yang tidak suka padanya. Begitu
juga tentang Kerwin Juanda. Dia tahu cowok itu sudah memusuhinya semenjak kali
pertama Melanika mengalahkannya dalam tes Pronunciation. Bukan berarti dia lantas
ikut memusuhi cowok itu juga. Kekanakan
sekali. Hanya saja, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menganggap
obsesi Kerwin terhadap nilai sebagai sesuatu yang menyedihkan. Dan ya, patut
ditertawakan juga.
Melanika membuang muka, mengulum senyum menghina.
Persetan dengan alasan Andrei Wicaksana menyapanya. Sepertinya barusan dia
mendengar sesuatu yang lumayan menarik.
***
Wajah runcing Kerwin Juanda merah padam, sepenuhnya sadar
akan pikiran apa yang melintas di kepala Melanika sekarang. Dan cewek itu juga
tidak menyembunyikannya. Dari luarnya, wajah cewek itu serata tembok seperti
biasa, tapi Kerwin seperti bisa melihat bahwa cewek itu menertawainya dalam
hati.
“Selamat siang, jiangshi.” Melanika menyapa sang dosen
dalam bahasa Mandarin lagi, sementara temannya yang gemuk—yang Ker kenali
sebagai senior yang sering bergabung dengan kelas mereka, bergerak-gerak
canggung. Cewek itu lalu mengerling Andrei (Si
brengsek itu, maunya apa sih pakai memanggil Melanika segala!), yang
nyengir lebar padanya tanpa sebab yang jelas, kemudian berkata dingin dan
pendek, “Hai.”
Fakta bahwa cewek itu bersikap seakan-akan Ker tidak kasat
mata membuat kekesalannya naik setingkat. Semua ini bahkan bukan idenya! Andrei
lah yang diminta oleh Lilly-jiangshi untuk menemuinya setelah kelas berakhir,
untuk membicarakan hasil ujiannya—yang merupakan terburuk di tingkatan mereka
kali ini. Dia meminta Ker ikut menemaninya, karena sehabis ini toh mereka akan
pergi ke kantin sama-sama. Bukan salahnya kalau diskusi mengenai ujian
membuatnya tertarik untuk berpartisipasi membicarakan hasil ujiannya sendiri.
Andai dia tahu Melanika juga akan di sini, sudah pasti dia tidak akan
melakukannya dan membuat dirinya sendiri tampak semakin menyedihkan.
Lilly-jiangshi balas menyapanya dengan ramah, “Selamat
siang, Melanika. Saya baru saja membicarakan hasil ujian kalian yang baru saya
bagikan dengan Kerwin dan Andrei.”
Melanika tidak segera membalas, seakan dia malas
menanggapinya. “Saya tahu,” sahutnya.
“Tentu saja, saya sangat puas dengan nilaimu. Sebagai
guru, bukankah kita merasa senang dan dihargai jika orang yang kita ajar
mendapatkan nilai yang bagus?” lanjut beliau, nampaknya sama sekali tak
keberatan akan sikap yang ditunjukkan cewek itu. “Kamu juga, Kerwin,” dia
menambahkan seraya menepuk lengan Ker, mengejutkannya.
“...Terima kasih, jiangshi.” Ker memaksa tersenyum. Hatinya
dongkol setengah mati.
“Kalau begitu, kami permisi dulu,” kata Melanika
buru-buru.
“Ah, kalian mau kemana?” Sekali ini, Lilly-jiangshi
berbicara dengan bahasa Indonesia, seakan-akan dia teringat akan sesuatu.
Wanita berumur akhir tiga puluhan itu pun bangun dari duduknya. “Mau menemui
seseorang?”
“Deng Deng diminta menemui Wei Lian-jiangshi.”
“Pak Wei Lian sedang rapat dengan para petinggi
fakultas,” tukasnya. “Memangnya orang-orang di depan nggak ngasih tahu?”
Melanika bertukar pandang dengan Deng Deng. Keduanya
menggeleng.
“Tunggu di sini sebentar ya, sepertinya rapatnya memang
agak darurat. Mungkin ada masalah mendesak.”
Lilly-jiangshi berjalan keluar dari balik meja,
meninggalkan mereka berempat dalam keheningan. Kerwin menghembuskan napas kesal
secara otomatis. Dia mendelik ke arah Andrei, yang balas menatapnya santai
tanpa dosa. Gara-gara cowok itu, dia harus dipermalukan lebih banyak lagi hari
ini! Sebenernya Ker ingin secepatnya meninggalkan ruangan, tapi rasanya kurang
sopan kalau dia melakukannya tanpa pamit pada Lilly-jiangshi terlebih dahulu. Argh, seharusnya dari tadi mereka
cepat-cepat pergi saja.
Melanika menguap keras. Tentu saja, dia bahkan tidak
menutup mulutnya. Pemandangan yang kemudian memancing sebuah ekspresi jijik
dari Ker tanpa sadar.
Andrei melirik ekspresi wajah temannya itu, lalu
Melanika. Sadar bahwa barusan Andrei memberinya lirikan nan mencurigakan dari
belakang, Ker langsung berbalik, berniat mencegah apapun yang sedang
direncanakan cowok itu. Tapi terlambat, Andrei sudah terlanjur buka mulut.
“Oi, Melanika.”
“Apa?”
“Denger-denger katanya lu punya kursus Mandarin di
sebelah rumah ya?”
“Nggak,” jawab Melanika sekenanya. “Itu punya kakek gue,
bukan punya gue.”
“Ahahaha iya, tapi maksudnya itu punya keluarga lu kan?”
“Bukan, punya kakek gue,” jawabnya mengulangi, masih
dengan nada bosan yang sama. Sekarang Ker memperhatikan reaksi Andrei, merasa
malu untuknya—yang ironisnya seperti tidak punya rasa malu bagi dirinya
sendiri. Tapi toh Ker rasa cepat atau lambat Andrei pasti menyerah berusaha berbasa-basi
dengan si cewek batu.
“Pantesan aja lu pinter banget, kakek lu aja punya kursus...”
Andrei mengeluarkan suara decak kagum yang terlihat sangat natural.
Sepertinya Melanika tidak mau bersusah payah menanggapi yang
terakhir ini. Sementara itu, Lilly-jiangshi sepertinya sudah mencapai ruang
rapat yang letaknya persis di ujung koridor. Terdengar derit pintu yang dibuka,
lalu....suara orang marah-marah?
Sama seperti Ker, Melanika juga sepertinya memperhatikan
hal ini. Begitu juga anak laki-laki gendut yang berdiri di sebelahnya, yang
menunjukkan reaksi agak berlebihan dengan melonjak seperti syok.
Tapi tentu saja, Andrei sibuk sendiri dengan rencananya
mengenal Melanika lebih jauh... atau apalah. Mengenal cowok itu, kecil
kemungkinan dia mengajak Melanika bicara hanya demi memuaskan rasa penasarannya
saja. Tidak mungkin juga dia naksir si cewek batu. Melanika sama sekali bukan
tipe Andrei. Lalu firasat buruk Ker mengatakan, jangan-jangan alasan tersembunyi
itu berkaitan dengan dirinya...
Sampai sini, Ker berpikir apakah sebaiknya dia menyeret Andrei keluar ruangan
saja.
“Hei, Melan, gimana kalo lu jadi guru privat gue aja?
Biar nilai gue bagusan sedikit gitu. Tadi aja nilai ujian gue parah banget,
sampai dipanggil ke sini sama Lilly-jiangshi,” tawarnya lancar, seolah dia
tidak berpikir sama sekali. Ker melotot. Apa?
Kali ini, Melanika juga sepertinya sudah habis sabar. Dia
menoleh untuk menghadapi Andrei. Sepasang alisnya yang tipis menekuk, bertemu
di tengah-tengah dahinya.
“Ogah,” tolaknya tanpa berusaha kedengaran lebih ramah.
Hanya saja, kemudian sepasang matanya beradu dengan Kerwin. Cewek itu meliriknya
tajam seolah dia sedang memikirkan sesuatu.
“Tuh,” katanya enteng, “kenapa nggak minta sama temen lu
aja? Sayang kan, punya temen pinter kok nggak dimanfaatin.”
Ker terbelalak, setengah tidak mempercayai
pendengarannya. Selama hampir satu setengah tahun bermusuhan satu sama lain
tanpa benar-benar saling mengenal, itu adalah pertama kalinya Melanika
mengarahkan pembicaraan kepadanya. Dan kalimatnya barusan sama sekali tidak
terdengar menyenangkan. Tidak, Kerwin tidak mungkin cuma berprasangka, dia rasa
kalimat barusan memang tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Yang barusan itu, adalah sebuah ejekan.
“Ah, Kerwin nggak bisa ngajarin orang,” tepis Andrei
ceria. “Dia nggak pernah sabar ngajarin gue, udah gitu dia juga sibuk sama
nilai-nilainya sendiri...”
“Oh, gitu ya?” Sekali ini, mimik wajah Melanika sedikit berubah.
Oke, cukup sudah.
“Pasti enak ya bisa dapet bagus terus tanpa perlu
belajar,” ujar Ker dingin. Tenang.
Jangan sampai harga dirinya semakin tercoreng karena emosinya lepas kendali...
Melanika memutar badannya, bersiap menghadapi pernyataan
barusan. Ada sesuatu dari caranya melirik Kerwin yang membuat cowok itu paham
bahwa kesabarannya akan diuji.
“Yea.” Melanika mengangguk tanpa malu-malu. “Memang.”
Dan Kerwin sudah harus menahan napasnya.
“Tapi gue sih malah nggak ngerti kenapa orang bisa maksa banget
demi yang namanya nilai,” katanya lagi. “Emangnya penting banget ya?”
Ker mendelik pada cewek itu. Entah sejak kapan mereka
sudah saling berhadap-hadapan, tanpa disadari keduanya, mempertegas satu
perbedaan lagi yang kontras di antara mereka. Melanika, yang tinggi badannya hampir
sejajar dengan para lelaki sepantarannya, kurang lebih sepuluh sentimeter lebih
tinggi dibanding Kerwin.
“Oh, lu mikirnya gitu?” Kerwin mendengus. “Kedengerannya sok
naif banget nggak sih? Mahasiswi fakultas keguruan
dengan IPK setinggi lu, malah nanya soal pentingnya nilai?”
“Ker-win,”
Melanika mengeja namanya. “Nggak kayak lu, nilai itu bukan segalanya buat gue
dan sebagian besar orang. Terima aja, kenyataannya emang begitu.”
Sampai sini, Kerwin sudah sangat merasa terhina. Kesal.
Dan malu. Semua tergambar jelas di raut wajahnya, pun dia sudah tidak peduli
lagi. Berdiri di antara keduanya, Andrei membuka mulut mau mengatakan sesuatu,
tapi kemudian ditutupnya. Karena toh Kerwin dan Melanika sepertinya tidak lagi
memperhatikan keberadaannya. Deng Deng mengamati dari jauh, sama seperti
Andrei, sepertinya jadi cemas karena terabaikan juga oleh Melanika.
“Lu pikir lu hebat banget ya sampai bisa bilang begitu?”
Ker menyipitkan mata.
Melanika membiarkan Kerwin menyelesaikan kalimatnya.
Sebelah alisnya terangkat.
“Liat aja. Gue pasti....”
Suara pintu menjeblak terbuka memecah ketegangan di
antara keduanya. Kerwin berhenti, menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga
tiga mahasiswa lainnya. Deng Deng melompat minggir, seakan-akan sesuatu yang
lebih besar darinya sedang berlari melintasi lorong ke arah mereka.
Dan memang sesosok laki-laki tengah berjalan dengan langkah-langkah
jengkel. Muda, berperawakan tinggi, separuh botak, dan memiliki dagu yang menonjol
ke depan, adalah orang yang mereka kenal sebagai Kepala Jurusan FKIP Bahasa
Mandarin universitas mereka, Liu Wei Lian. Atau dengan nama
Indonesianya—William Liu. Pria itu berjalan melintasi lorong seolah dia tidak
melihat mereka, lalu membuka pintu. Suaranya yang bernada tinggi bisa dengan
gampang didengar.
“Gimana sih ini Pak, saya kan sudah bilang, di dalam
sedang ada rapat! Jangan ada mahasiswa yang memasuki area petinggi dulu...”
“Lah, kami nggak tahu. Tadi Pak Wei Lian ngomongnya sama
siapa?”
“Rapatnya mendadak, Pak. Tadi sudah saya beritahukan ke
Ibu Sera yang sedang bertugas jaga...”
“Oh, Ibu Seranya sedang keluar sebentar Pak. Maaf ya...”
Lilly-jiangshi muncul lagi dari balik pintu, menghampiri
mereka yang mendadak asyik menyimak. “Maaf ya, saya nggak tahu sih,” katanya
tak nyaman. “Mungkin sebaiknya kalian jangan berada di sini dulu sekarang
ini... soalnya lagi ada masalah...”
Sebelum ada seorang pun dari mereka yang terpikir sesuatu
untuk menanggapi pengusiran halus barusan, terdengar suara Andrei.
“Jangan-jangan bener ya jurusan kita mau ditutup?”
Keheningan menyusul celetukan asalnya kali ini. Kerwin
dan Melanika langsung berbalik, melongo tanpa kata padanya. Deng Deng malah
bergidik di tempat. Tapi selama sejenak itu, semua diam tanpa kata.
Reaksi tersebut membuat Andrei jadi gugup. “C-cuma gosip
dari anak-anak kok, biasa...”
“Darimana kamu tahu?”
Menyusul suara itu, ada keheningan lagi. Sang Kepala
Jurusan sedang menyusuri koridor dalam perjalanan kembali ke ruang rapat.
Matanya menelusuri wajah mereka berempat satu demi satu dengan curiga.
Sekali ini, Andrei benar-benar terlihat menyesal. Dia
menggaruk-garuk kepalanya ketika menjawab, “Saya cuma dengar desas-desus, Pak.
Maaf, bukannya berniat menyebarkan gosip atau apa...”
“Jadi benar prodi kita akan ditutup?” Kerwin tidak bisa
mencegah dirinya sendiri untuk tidak bertanya. Penutupan jurusan sama sekali
bukan hal yang lucu, apalagi membayangkan rencana masa depannya yang sudah
disusun dengan matang. “...Pak?” Dia menambahkan, supaya lebih sopan.
Pak Wei Lian menghembuskan napas berat sebelum menjawab.
Dengan demikian, jelaslah sudah mengapa tadi Kerwin mendengar suara teriakan
dari dalam ruang rapat.
“Saya berharap bisa menyangkalnya, Kerwin. Sayangnya, hal
tersebut memang sedang dalam proses pertimbangan oleh pihak Rektorat,” katanya
kemudian. “Yang saya tidak mengerti, kenapa mahasiswa bisa sampai tahu...”
“Barangkali cuma tebakan asal berujung gosip?” tukas
Andrei sok tahu. “Yah, kan jumlah mahasiswa kita udah sedikit, sedangkan jumlah
maba tahun ini cuma belasan... Kali aja,” imbuhnya dengan suara lebih kecil.
“Satu dari beberapa pertimbangan mereka.” Pak Wei Lian
mengernyit padanya, mengangkat bahu. “Yang pasti, saya minta kalian berempat
supaya jangan gembar-gembor dulu membicarakan masalah ini, mengerti? Saya pasti
akan mengusahakan supaya hal itu tidak terjadi. Jurusan kita baru berdiri
selama sepuluh tahun. Seharusnya masih ada kesempatan untuk berkembang...”
“Apa yang akan kalian lakukan pada para mahasiswa kalau
prodi beneran ditutup?”
Barusan itu, Melanika yang bicara. Lebih tepatnya, dia
menyela. Berani banget, pikir Ker
agak takjub. Dan ternyata, dia peduli
juga toh.
Rupanya tidak benar-benar ngeh akan kehadiran mahasiswa
lain selain Andrei dan Ker yang daritadi bicara, sekarang Pak Wei Lian menoleh
kepadanya. Alisnya berkerut, seperti setengah mencela kelakuan si mahasiswi
yang tidak sopan, dan setengah berusaha mengenalinya.
“Ada beberapa kemungkinan,” jelasnya memulai
lambat-lambat, “tapi jelas, pihak universitas tidak mungkin menelantarkan
kalian separuh jalan tanpa ijazah. Apa kamu anak tingkat dua yang bernama
Melanika Li?”
Yang ditanya cuma mengangguk singkat. Pandangan cewek itu
meyoroti sang Kepala Jurusan seakan dia tidak puas dengan jawaban yang pria itu
berikan, membuat Ker heran mengapa Pak Wei Lian tidak segera menempelengnya
karena itu.
“Saya banyak mendengar tentang kamu, meski belum pernah
mengajar kamu secara langsung,” katanya agak dingin. “Dan sepertinya saya juga
hampir tidak pernah melihat kamu di sekitar sini. Kamu tidak pernah ikut
kegiatan apa-apa ya?”
“Tidak pernah,” sahut Melanika pendek.
Pak Wei Lian mengangguk-angguk. Kerutan di dahinya
menandakan bahwa dia sedang berpikir keras. “Baiklah,” ujarnya belakangan.
“Sekarang, saya minta kalian semua kembali melakukan aktivitas masing-masing di
luar ruangan ini. Saya harus kembali ke rapat. Tapi sebelumnya, saya minta
kamu,” dia menatap Melanika tajam, “dan kamu, Kerwin, kalian berdua, tolong ke
ruangan saya besok pagi jam setengah sepuluh pagi.”
Kerwin menatapnya dengan tidak percaya, lalu
Melanika—yang hanya balik meliriknya sinis. “Kenapa?!” tanyanya agak keras. Dia
sudah memutuskan bahwa dia tidak sudi bicara lagi atau bahkan berada di dekat
cewek itu lebih dari lima meter, dan sekarang Kepala Jurusan meminta Ker
menemuinya di kantor bersama cewek itu besok? Demi apa?
“Saya sibuk, Kerwin, dan kalau kalian benar-benar peduli
mengenai masa depan kalian dan teman-teman kalian, saya minta kalian datang—ah
tidak, kalian saya haruskan untuk datang besok pagi,” kata Pak Wei Lian
buru-buru sambil berjalan ke arah pintu. “Bai Deng Deng!” panggilnya tiba-tiba,
seakan baru teringat, “kamu tunggu di ruangan saya. Kurang lebih setengah jam
lagi saya akan menemui kamu.”
Wajah Deng Deng berubah pucat seperti saat dia baru tiba
di ruangan ini. Pintu ruang rapat berdebam menutup. Bahkan pada saat mereka
berpamitan dengan Lilly-jiangshi yang suasana hatinya masih jelek (mungkin tadi kena marah?), dia masih tak
habis pikir memahami maksud perkataan sang Kepala Jurusan. Masa depan apanya.
Miliknya sendiri, jelas dia sangat peduli. Tapi apa urusan Ker dengan masa
depan para mahasiswa pemalas di jurusan mereka?
Lalu kenapa harus bersama Melanika?
“Ciyee yang dipanggil Kajur besok.” Begitu mereka ada di
kantin, Andrei langsung meledek.
“Kira-kira kenapa ya?” Tidak berniat membalas, Kerwin
malah bertanya dari seberang meja. Benaknya dipenuhi berbagai hal yang tidak
menyenangkan.
“Pasti ada hubungannya sama kabar barusan.”
“Menurut lu jurusan kita beneran bakal ditutup?”
“Nggak tahu juga,” kata Andrei sambil menggigit
burgernya. “Tapi sebenernya wajar sih. Akreditasi baru C, jumlah mahasiswa
minim, udah begitu peminatnya sedikit—namanya juga fakultas keguruan di
universitas swasta. Bahasa Mandarin lagi...”
Kerwin memprotes, “Udah tau gitu kenapa lu masuk sini?”
“Ya lu sendiri kenapa emangnya?”
“Soalnya,” Kerwin mengambil jeda sejenak. “Pas
tahun-tahun awal dibukanya, jurusan Bahasa Mandarin di kampus ini keliatan
lumayan menjanjikan kan?”
“Kalo gue sih, karena gue tahu presenter yang lagi
terkenal itu—Nuke Putra, juga alumni sini.”
“Hah? Emang lu mau jadi presenter?”
“Enggak sih, tapi ni
zhi dao lah, jadinya kedengeran keren aja gitu.”
“Oh,” tukas Ker pendek, tak mau membahasnya lebih jauh.
Tipikal Andrei. Kenapa masuk fakultas ini? Karena kedengarannya keren.
“Kenapa lu? Terus lu stres gitu karena jurusan kita mau
ditutup? Ahahaha...”
“Gue rasa semua mahasiswa normal juga stres kalo denger
jurusannya mau ditutup...” timpal Ker sebal.
“Udah, tenang aja,” kata Andrei yakin. “Separah-parahnya
juga palingan kita dipindah ke jurusan FKIP lain...”
“Itu parah banget, nyet!”
“Lah kan belum pasti,” sahutnya lagi. “Lagian si William
itu udah bilang kan, dia bakal ngusahain sesuatu. Hidup dibawa santai dikit
napa sih, dasar bocah.”
Sungguh, Kerwin tidak paham kenapa Andrei bisa sesantai
ini. Dia menggeram frustasi. “Oke, terus apa hubungannya sama besok dia manggil
gue ke ruangannya? Sama... si cewek batu?”
“Itu dia yang misterius.” Andrei menyipitkan mata dan
berpikir. “Mungkin karena lu berdua pinter, jadi dia punya rencana sendiri buat
lu berdua?” Kemudian dia mendesah tragis. “Iya juga ya, pasti enak jadi
mahasiswa unggulan di saat-saat kayak gini. Jangan-jangan lu berdua malah bakal
dipindahin ke universitas luar negeri yang bagus...”
“Gitu ya?” Kerwin menimbang-nimbang. Kalau benar begitu,
berarti kabar ini tidak seburuk sangkaannya.
“Terus lu berduaan menuntut ilmu sama Melanika dong.
Ciyeeee...”
Suasana hati Ker langsung rusak lagi. “Amit-amit. Lu tuh
ya...” Dan bukan hanya itu, dia juga teringat kekesalannya beberapa saat yang
lalu di depan meja Lilly-jiangshi. “Ngapain sih pake mancing-mancing tuh cewek
segala tadi?!”
“Soalnya lucu Ker, ngeliat lu sama dia,” jawab Andrei
jujur sambil tertawa. “Daripada musuhan terus, siapa tau bisa jadi akur kalo
ngobrol sekali-kali...”
“Nggak mungkin, nggak mungkin,” tepis Ker dengan
gelengan. “Udah ah, gue cabut duluan ya.”
“Yah, dicengin sedikit aja udah ngambek lu, bocah.”
“Bukan, sial!” Ker membentak tak sabar. “Ada rapat Nir
Wana abis ini. Udah telat setengah jam, malah.”
“Yaudah, gih sana.”
Setelah meninggalkan Andrei makan sendirian di kantin,
Kerwin mendesah lega. Akhirnya, bisa juga dia mengambil napas dari semua
hal-hal menyebalkan sepanjang hari ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar