Selasa, 12 Februari 2013

[Proyek Teenlit] - 2



| 2 – Kabar Buruk

“Deng Deng!”

Melanika berjalan cepat-cepat menerobos lautan manusia di sepanjang jalanan kantin. Wajahnya yang berkulit pucat nampak berkeringat ketika dia berhenti di hadapan salah satu meja yang ditadahi payung. Sesosok laki-laki tambun duduk di bawahnya. Badannya begitu besar sehingga kursi kayu yang didudukinya berderit, seolah mengeluh tak mampu menopang penghuninya. Di sebelahnya, seorang anak perempuan dengan rambut diikat dua longgar duduk manis.

Begitu menyadari kedatangan Melanika, cewek ini mendongak, mengeluarkan “Oh!” pelan lalu agak menegakkan punggungnya.

Gerakan tersebut menarik perhatian si laki-laki juga. Maka dia berpaling, menunjukkan wajahnya yang merah dan basah oleh air mata. “Melan!” panggilnya.

“Sori, aku baru baca sms kamu.” Melan memutari meja, lalu duduk di seberangnya—di sebelah anak perempuan berkuncir. Dia menarik napas sebentar, menaruh tasnya yang kopong, nyaris hanya berisi laptop di atas meja. “Jadi bener, kamu dipanggil PA lagi?”

“Kok tahu?” Deng Deng mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya yang basah.

Tentu saja Melan tahu. Terakhir kali Deng Deng yang tinggi dan besar menangis seperti anak bayi di hadapannya, urusan yang dia hadapi juga menyangkut Pembimbing Akademiknya, yang lain tak bukan adalah sang Kepala Jurusan yang menakutkan—Wei Lian-jiangshi.

“Ya tahu lah,” jawab Melan pendek. “Pergi sana, sekarang. Selesain secepetnya.”

“Tapi, tapi...”

Deng Deng nampak ketakutan, membuat Melan tak tega. Memang, sangat berlawanan dengan penampilannya, seniornya yang satu ini agak bermasalah dengan sikapnya yang lembek kekanakan. Tapi Melan tahu bahwa Deng Deng adalah anak yang berhati baik. Justru saking baiknya, dia jadi sensitif nan cengeng.

Dia bukannya tidak tahu kenapa Deng Deng takut sekali menerima panggilan dari sang Kepala Jurusan. Terakhir kali dia dipanggil ke ruangan dosen yang menjadi PA-nya tersebut, Deng Deng berakhir dibentak-bentak serta dipermalukan sampai menangis menggerung-gerung di tempat. Memang, Deng Deng bukan mahasiswa yang cakap. Meski harusnya dia setingkat lebih tinggi di atas Melan, ada banyak mata kuliah yang gagal dilewatinya. Nah, rupanya kesabaran sang Ketua Jurusan telah mencapai batas ketika dia mendapat laporan, bahwa anak bimbingannya sendiri hanya lolos dua mata kuliah dari total delapan yang diambilnya semester lalu.

Bagi mahasiswa jurusan FKIP Bahasa Mandarin yang jumlahnya tak sampai seratus di universitas ini, gagal melewati satu mata kuliah saja sudah merupakan hal yang memalukan. Mengingat hanya ada kurang lebih dua puluh anak dalam satu tingkatan, semua mahasiswa yang setingkat akan selalu sekelas. Jika ada yang tidak lulus, rasanya hampir seperti tidak naik kelas di sekolah dulu. Orang tersebut harus menanggung malu dengan bergabung di kelas para mahasiswa junior. Kurang lebih begitulah yang terjadi dengan Deng Deng.

Melan masih ingat, semester lalu, Deng Deng bergabung dengan angkatannya (waktu itu mereka masih tingkat satu). Badannya yang besar, dan tentu saja sikapnya yang gelisah, membuatnya langsung jadi bulan-bulanan. Karena kebetulan Melan juga sendirian, akhirnya dia jadi satu-satunya orang yang mengajak Deng Deng bicara di kelas.

“Emangnya menurut kamu, kenapa kamu dipanggil?” tanya Melan penuh selidik.

“Apalagi?” Deng Deng balik bertanya suram. “Pasti soal UTS-ku.”

“Oh.”

Kemudian Melanika bungkam. Pengalaman memberitahunya, bahwa mahasiswa seperti dia baiknya tidak mencoba menghibur orang-orang yang mengalami kesulitan soal nilai. Mau seperti apapun, jatuhnya pasti salah.

“Kalo gitu, ayo.” Melanika memutuskan. “Kutemenin sampai depan ruangannya deh.”

“Kamu mau? Beneran?” Deng Deng menatapnya penuh terima kasih.

“Semester depan, aku nggak mau lagi loh.”

“Ya, ya, aku tahu kok!” sahutnya, terdengar sedikit lebih bersemangat. Cowok itu berdiri, tanpa sengaja menjatuhkan kursi ke belakang dalam prosesnya. “Ups.”

Mahasiswi yang sejak tadi diam di sebelah Melanika berjongkok untuk membenarkan posisi benda tersebut. “Makasih ya, kak Melan.” Sepasang bola matanya yang sipit, berbinar ramah terasa tak asing.

“Siapa ya?”

“Ah iya, aku sibuk galau sampai lupa,” tukas Deng Deng sambil menepuk kepalanya sendiri. “Ini adikku, Shui Xian. Dia di jurusan kita juga. Maba, tingkat satu. Shui Xian, ini Melan yang sering aku ceritain.”

Cewek itu menyorongkan tangan kanannya untuk memberi salam perkenalan. Melanika menyambutnya. Deng Deng tidak pernah cerita kalau semester ini adiknya bergabung dalam jurusan mereka. Ditambah lagi, Shui Xian—meski karakter wajahnya serupa dengan Deng Deng, secara keseluruhan terlihat sangat berbeda dengan kakaknya. Postur tubuh cewek itu mungil, dengan aura lembut dan dewasa terpancar dari tiap gerak-geriknya.

“Sebenernya aku yang tadinya mau nemenin gege,” katanya. Suaranya nyaring tapi enak didengar. “Tapi setengah jam lagi aku harus ikut pertemuan Nir Wana, dan rasanya nggak enak kalau terlambat, padahal masih anggota baru. Untung ada kak Melan.” Nir Wana adalah nama saluran radio kepunyaan fakultas mereka, yang dikelola oleh para mahasiswa.

“Oooh...”

“Yaudah, kalau begitu aku duluan ya,” katanya sambil bangkit berdiri juga. Namun sebelum pergi, dia menoleh kepada Deng Deng. Seketika itu juga nadanya berubah menjadi lebih tegas.

“Ge, jangan ngerepotin kak Melan ya! Kan kamu yang dapet nilai jelek, jadi kamu emang udah sepantasnya kena marah lagi.”

Deng Deng mengkerut di bawah tatapan dingin adiknya.

“Iya, iya... tahu kok.”

“Daaah!”

“Sampai nanti,” sahut sang kakak.

“Bye,” sahut Melan pendek.

Beberapa saat kemudian, dia dan Deng Deng berjalan cepat dalam diam. Melanika di depan. Deng Deng di belakang. Demi kepentingan orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang koridor gedung kampus, Melan rasa tidak baik kalau dia berjalan beriringan dengan satu-satunya teman baiknya di kampus itu.

“Deng Deng,” panggil Melanika begitu mereka sudah tiba di muka pintu ruangan sekretariat FKIP. Entah sejak kapan, cowok itu malah berdiri diam beberapa meter di belakang. Gemetaran. “Ayolah!”

“M-mati deh aku... Gimana nih, kali ini dia pasti bunuh aku...”

“Jangan konyol. Itu mah ilegal.”

“Tapi... tapi.... nilai Grammar-ku beneran ancur lebur...”

Melanika berdecak tak sabar. Dengan langkah-langkah lebar, ditariknya cowok itu sampai ke dalam ruangan sekretariat. Deng Deng tidak memberontak, tapi dia juga tak sanggup berjalan sendiri tanpa gemetaran. Orang-orang di dalam, para petugas sekretariat, menoleh ke arah mereka—sebagian karena sosok si mahasiswa yang mencolok, sebagian karena cara berjalan mereka tidak biasa.

“Bai Deng Deng,” panggil salah satu petugas dari balik meja kerjanya. “Kamu ditungguin Pak Wei Lian di dalam ruangannya.”

“S-saya memang datang untuk menemui beliau, Pak,” cicit Deng Deng sambil membiarkan Melanika menyeretnya masuk semakin ke dalam. Melanika sendiri hanya mengangguk hormat ke arah para petugas di sepanjang celah dari meja ke meja.

“Lah, pantesan aja pake diseret-seret,” komentar salah satu petugas lainnya, tampak geli melihat mereka berdua. Sepertinya insiden menangisnya Deng Deng di ruangan Kepala Jurusan sudah diketahui oleh umum. Wajar saja, kalau mengingat betapa keras suara tangisannya waktu itu.

Mereka berdua berjalan melewati sepasang pintu kaca di pojok kanan ruangan. Pintu ini adalah pembatas antara ruangan sekretariat dan area para dosen tetap serta petinggi fakultas. Begitu pintu dibuka, terlihat lorong panjang berisi banyak pintu menuju ruang-ruang pribadi mereka. Tujuan Deng Deng dan Melanika adalah ruangan Kepala Jurusan, tapi sebelumnya, mereka harus melalui bagian terbuka di tengah lorong, tempat meja-meja dosen honorer diletakkan dalam barisan yang lebih rapi dibanding barisan meja para petugas sekretariat.

Dengung pembicaraan juga merebak di sini. Namun tidak seperti di kelas, nada pembicaraan yang melingkupi tempat ini entah bagaimana terasa menimbulkan hawa dingin mencekam. Khas dosen. Bagi Melanika, sederhana saja, bagian kampus yang ini dipenuhi dengan aura pendidik yang kental. Makanya hawanya seperti itu.

“Oh, hai Melanika!”

Melanika bingung mendengar namanya disebut di tempat ini dengan nada yang begitu.... informal. Dia membalikkan badan. Bagian tengah lorong nampak sepi. Hanya ada dua dosen di sana, yaitu seorang laki-laki paruh baya yang tak dikenalnya karena belum pernah diajar, dan Lilly-jiangshi di meja tengah-tengah. Di depan mejanya, berdiri dua orang mahasiswa. Salah satunya terlihat sedang terlibat pembicaraan serius dengan sang dosen.

“...jadi begitu, semoga kamu paham. Arah goresan yang salah, akibatnya bisa fatal dan mengubah maknanya menjadi berbeda. Meski secara keseluruhan, saya paham memang huruf ini yang kamu maksud, saya tetap tidak bisa membenarkan jawaban kamu karena alasan itu.”

“Tapi bisakah saya setidaknya mendapat tambahan setengah poin karena sudah menuliskan pinyin-nya dengan benar?”

Sampai detik itu, keduanya sudah menyadari kehadiran dua orang lain di ruangan tersebut. Melanika masih diam dengan dahi berkerut. Kenapa teman setingkatnya yang—seingatnya—bernama Andrei Wicaksana ini menyapanya dengan begitu ramah, padahal mereka nyaris tidak pernah bicara satu sama lain? Mana di tempat ini pula. Lilly-jiangshi melongok ke arah Melanika dan Deng Deng, begitu juga mahasiswa yang tengah berbicara dengannya—yang langsung terkesiap ngeri begitu melihat Melanika.

Begitu menyadari siapa orangnya, kedua alis Melanika terangkat tanpa mampu ditahan-tahan.

Meski wajahnya datar, jarang menunjukkan emosi, Melanika sebenarnya sangat peka dalam mengenali orang-orang yang tidak suka padanya. Begitu juga tentang Kerwin Juanda. Dia tahu cowok itu sudah memusuhinya semenjak kali pertama Melanika mengalahkannya dalam tes Pronunciation. Bukan berarti dia lantas ikut memusuhi cowok itu juga. Kekanakan sekali. Hanya saja, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menganggap obsesi Kerwin terhadap nilai sebagai sesuatu yang menyedihkan. Dan ya, patut ditertawakan juga.

Melanika membuang muka, mengulum senyum menghina. Persetan dengan alasan Andrei Wicaksana menyapanya. Sepertinya barusan dia mendengar sesuatu yang lumayan menarik.

***

Wajah runcing Kerwin Juanda merah padam, sepenuhnya sadar akan pikiran apa yang melintas di kepala Melanika sekarang. Dan cewek itu juga tidak menyembunyikannya. Dari luarnya, wajah cewek itu serata tembok seperti biasa, tapi Kerwin seperti bisa melihat bahwa cewek itu menertawainya dalam hati.

“Selamat siang, jiangshi.” Melanika menyapa sang dosen dalam bahasa Mandarin lagi, sementara temannya yang gemuk—yang Ker kenali sebagai senior yang sering bergabung dengan kelas mereka, bergerak-gerak canggung. Cewek itu lalu mengerling Andrei (Si brengsek itu, maunya apa sih pakai memanggil Melanika segala!), yang nyengir lebar padanya tanpa sebab yang jelas, kemudian berkata dingin dan pendek, “Hai.”

Fakta bahwa cewek itu bersikap seakan-akan Ker tidak kasat mata membuat kekesalannya naik setingkat. Semua ini bahkan bukan idenya! Andrei lah yang diminta oleh Lilly-jiangshi untuk menemuinya setelah kelas berakhir, untuk membicarakan hasil ujiannya—yang merupakan terburuk di tingkatan mereka kali ini. Dia meminta Ker ikut menemaninya, karena sehabis ini toh mereka akan pergi ke kantin sama-sama. Bukan salahnya kalau diskusi mengenai ujian membuatnya tertarik untuk berpartisipasi membicarakan hasil ujiannya sendiri. Andai dia tahu Melanika juga akan di sini, sudah pasti dia tidak akan melakukannya dan membuat dirinya sendiri tampak semakin menyedihkan.

Lilly-jiangshi balas menyapanya dengan ramah, “Selamat siang, Melanika. Saya baru saja membicarakan hasil ujian kalian yang baru saya bagikan dengan Kerwin dan Andrei.”

Melanika tidak segera membalas, seakan dia malas menanggapinya. “Saya tahu,” sahutnya.

“Tentu saja, saya sangat puas dengan nilaimu. Sebagai guru, bukankah kita merasa senang dan dihargai jika orang yang kita ajar mendapatkan nilai yang bagus?” lanjut beliau, nampaknya sama sekali tak keberatan akan sikap yang ditunjukkan cewek itu. “Kamu juga, Kerwin,” dia menambahkan seraya menepuk lengan Ker, mengejutkannya.

“...Terima kasih, jiangshi.” Ker memaksa tersenyum. Hatinya dongkol setengah mati.

“Kalau begitu, kami permisi dulu,” kata Melanika buru-buru.

“Ah, kalian mau kemana?” Sekali ini, Lilly-jiangshi berbicara dengan bahasa Indonesia, seakan-akan dia teringat akan sesuatu. Wanita berumur akhir tiga puluhan itu pun bangun dari duduknya. “Mau menemui seseorang?”

“Deng Deng diminta menemui Wei Lian-jiangshi.”

“Pak Wei Lian sedang rapat dengan para petinggi fakultas,” tukasnya. “Memangnya orang-orang di depan nggak ngasih tahu?”

Melanika bertukar pandang dengan Deng Deng. Keduanya menggeleng.

“Tunggu di sini sebentar ya, sepertinya rapatnya memang agak darurat. Mungkin ada masalah mendesak.”

Lilly-jiangshi berjalan keluar dari balik meja, meninggalkan mereka berempat dalam keheningan. Kerwin menghembuskan napas kesal secara otomatis. Dia mendelik ke arah Andrei, yang balas menatapnya santai tanpa dosa. Gara-gara cowok itu, dia harus dipermalukan lebih banyak lagi hari ini! Sebenernya Ker ingin secepatnya meninggalkan ruangan, tapi rasanya kurang sopan kalau dia melakukannya tanpa pamit pada Lilly-jiangshi terlebih dahulu. Argh, seharusnya dari tadi mereka cepat-cepat pergi saja.

Melanika menguap keras. Tentu saja, dia bahkan tidak menutup mulutnya. Pemandangan yang kemudian memancing sebuah ekspresi jijik dari Ker tanpa sadar.

Andrei melirik ekspresi wajah temannya itu, lalu Melanika. Sadar bahwa barusan Andrei memberinya lirikan nan mencurigakan dari belakang, Ker langsung berbalik, berniat mencegah apapun yang sedang direncanakan cowok itu. Tapi terlambat, Andrei sudah terlanjur buka mulut.

“Oi, Melanika.”

“Apa?”

“Denger-denger katanya lu punya kursus Mandarin di sebelah rumah ya?”

“Nggak,” jawab Melanika sekenanya. “Itu punya kakek gue, bukan punya gue.”

“Ahahaha iya, tapi maksudnya itu punya keluarga lu kan?”

“Bukan, punya kakek gue,” jawabnya mengulangi, masih dengan nada bosan yang sama. Sekarang Ker memperhatikan reaksi Andrei, merasa malu untuknya—yang ironisnya seperti tidak punya rasa malu bagi dirinya sendiri. Tapi toh Ker rasa cepat atau lambat Andrei pasti menyerah berusaha berbasa-basi dengan si cewek batu.

“Pantesan aja lu pinter banget, kakek lu aja punya kursus...” Andrei mengeluarkan suara decak kagum yang terlihat sangat natural.

Sepertinya Melanika tidak mau bersusah payah menanggapi yang terakhir ini. Sementara itu, Lilly-jiangshi sepertinya sudah mencapai ruang rapat yang letaknya persis di ujung koridor. Terdengar derit pintu yang dibuka, lalu....suara orang marah-marah?

Sama seperti Ker, Melanika juga sepertinya memperhatikan hal ini. Begitu juga anak laki-laki gendut yang berdiri di sebelahnya, yang menunjukkan reaksi agak berlebihan dengan melonjak seperti syok.

Tapi tentu saja, Andrei sibuk sendiri dengan rencananya mengenal Melanika lebih jauh... atau apalah. Mengenal cowok itu, kecil kemungkinan dia mengajak Melanika bicara hanya demi memuaskan rasa penasarannya saja. Tidak mungkin juga dia naksir si cewek batu. Melanika sama sekali bukan tipe Andrei. Lalu firasat buruk Ker mengatakan, jangan-jangan alasan tersembunyi itu berkaitan dengan dirinya... Sampai sini, Ker berpikir apakah sebaiknya dia menyeret Andrei keluar ruangan saja.

“Hei, Melan, gimana kalo lu jadi guru privat gue aja? Biar nilai gue bagusan sedikit gitu. Tadi aja nilai ujian gue parah banget, sampai dipanggil ke sini sama Lilly-jiangshi,” tawarnya lancar, seolah dia tidak berpikir sama sekali. Ker melotot. Apa?

Kali ini, Melanika juga sepertinya sudah habis sabar. Dia menoleh untuk menghadapi Andrei. Sepasang alisnya yang tipis menekuk, bertemu di tengah-tengah dahinya.

“Ogah,” tolaknya tanpa berusaha kedengaran lebih ramah. Hanya saja, kemudian sepasang matanya beradu dengan Kerwin. Cewek itu meliriknya tajam seolah dia sedang memikirkan sesuatu.

“Tuh,” katanya enteng, “kenapa nggak minta sama temen lu aja? Sayang kan, punya temen pinter kok nggak dimanfaatin.”

Ker terbelalak, setengah tidak mempercayai pendengarannya. Selama hampir satu setengah tahun bermusuhan satu sama lain tanpa benar-benar saling mengenal, itu adalah pertama kalinya Melanika mengarahkan pembicaraan kepadanya. Dan kalimatnya barusan sama sekali tidak terdengar menyenangkan. Tidak, Kerwin tidak mungkin cuma berprasangka, dia rasa kalimat barusan memang tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Yang barusan itu, adalah sebuah ejekan.

“Ah, Kerwin nggak bisa ngajarin orang,” tepis Andrei ceria. “Dia nggak pernah sabar ngajarin gue, udah gitu dia juga sibuk sama nilai-nilainya sendiri...”

“Oh, gitu ya?” Sekali ini, mimik wajah Melanika sedikit berubah.

Oke, cukup sudah.

“Pasti enak ya bisa dapet bagus terus tanpa perlu belajar,” ujar Ker dingin. Tenang. Jangan sampai harga dirinya semakin tercoreng karena emosinya lepas kendali...

Melanika memutar badannya, bersiap menghadapi pernyataan barusan. Ada sesuatu dari caranya melirik Kerwin yang membuat cowok itu paham bahwa kesabarannya akan diuji.

“Yea.” Melanika mengangguk tanpa malu-malu. “Memang.”

Dan Kerwin sudah harus menahan napasnya.

“Tapi gue sih malah nggak ngerti kenapa orang bisa maksa banget demi yang namanya nilai,” katanya lagi. “Emangnya penting banget ya?”

Ker mendelik pada cewek itu. Entah sejak kapan mereka sudah saling berhadap-hadapan, tanpa disadari keduanya, mempertegas satu perbedaan lagi yang kontras di antara mereka. Melanika, yang tinggi badannya hampir sejajar dengan para lelaki sepantarannya, kurang lebih sepuluh sentimeter lebih tinggi dibanding Kerwin.

“Oh, lu mikirnya gitu?” Kerwin mendengus. “Kedengerannya sok naif banget nggak sih? Mahasiswi fakultas keguruan dengan IPK setinggi lu, malah nanya soal pentingnya nilai?”

Ker-win,” Melanika mengeja namanya. “Nggak kayak lu, nilai itu bukan segalanya buat gue dan sebagian besar orang. Terima aja, kenyataannya emang begitu.”

Sampai sini, Kerwin sudah sangat merasa terhina. Kesal. Dan malu. Semua tergambar jelas di raut wajahnya, pun dia sudah tidak peduli lagi. Berdiri di antara keduanya, Andrei membuka mulut mau mengatakan sesuatu, tapi kemudian ditutupnya. Karena toh Kerwin dan Melanika sepertinya tidak lagi memperhatikan keberadaannya. Deng Deng mengamati dari jauh, sama seperti Andrei, sepertinya jadi cemas karena terabaikan juga oleh Melanika.

“Lu pikir lu hebat banget ya sampai bisa bilang begitu?” Ker menyipitkan mata.

Melanika membiarkan Kerwin menyelesaikan kalimatnya. Sebelah alisnya terangkat.

“Liat aja. Gue pasti....”

Suara pintu menjeblak terbuka memecah ketegangan di antara keduanya. Kerwin berhenti, menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga tiga mahasiswa lainnya. Deng Deng melompat minggir, seakan-akan sesuatu yang lebih besar darinya sedang berlari melintasi lorong ke arah mereka.

Dan memang sesosok laki-laki tengah berjalan dengan langkah-langkah jengkel. Muda, berperawakan tinggi, separuh botak, dan memiliki dagu yang menonjol ke depan, adalah orang yang mereka kenal sebagai Kepala Jurusan FKIP Bahasa Mandarin universitas mereka, Liu Wei Lian. Atau dengan nama Indonesianya—William Liu. Pria itu berjalan melintasi lorong seolah dia tidak melihat mereka, lalu membuka pintu. Suaranya yang bernada tinggi bisa dengan gampang didengar.

“Gimana sih ini Pak, saya kan sudah bilang, di dalam sedang ada rapat! Jangan ada mahasiswa yang memasuki area petinggi dulu...”

“Lah, kami nggak tahu. Tadi Pak Wei Lian ngomongnya sama siapa?”

“Rapatnya mendadak, Pak. Tadi sudah saya beritahukan ke Ibu Sera yang sedang bertugas jaga...”

“Oh, Ibu Seranya sedang keluar sebentar Pak. Maaf ya...”

Lilly-jiangshi muncul lagi dari balik pintu, menghampiri mereka yang mendadak asyik menyimak. “Maaf ya, saya nggak tahu sih,” katanya tak nyaman. “Mungkin sebaiknya kalian jangan berada di sini dulu sekarang ini... soalnya lagi ada masalah...”

Sebelum ada seorang pun dari mereka yang terpikir sesuatu untuk menanggapi pengusiran halus barusan, terdengar suara Andrei.

“Jangan-jangan bener ya jurusan kita mau ditutup?”

Keheningan menyusul celetukan asalnya kali ini. Kerwin dan Melanika langsung berbalik, melongo tanpa kata padanya. Deng Deng malah bergidik di tempat. Tapi selama sejenak itu, semua diam tanpa kata.

Reaksi tersebut membuat Andrei jadi gugup. “C-cuma gosip dari anak-anak kok, biasa...”

“Darimana kamu tahu?”

Menyusul suara itu, ada keheningan lagi. Sang Kepala Jurusan sedang menyusuri koridor dalam perjalanan kembali ke ruang rapat. Matanya menelusuri wajah mereka berempat satu demi satu dengan curiga.

Sekali ini, Andrei benar-benar terlihat menyesal. Dia menggaruk-garuk kepalanya ketika menjawab, “Saya cuma dengar desas-desus, Pak. Maaf, bukannya berniat menyebarkan gosip atau apa...”

“Jadi benar prodi kita akan ditutup?” Kerwin tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tidak bertanya. Penutupan jurusan sama sekali bukan hal yang lucu, apalagi membayangkan rencana masa depannya yang sudah disusun dengan matang. “...Pak?” Dia menambahkan, supaya lebih sopan.

Pak Wei Lian menghembuskan napas berat sebelum menjawab. Dengan demikian, jelaslah sudah mengapa tadi Kerwin mendengar suara teriakan dari dalam ruang rapat.

“Saya berharap bisa menyangkalnya, Kerwin. Sayangnya, hal tersebut memang sedang dalam proses pertimbangan oleh pihak Rektorat,” katanya kemudian. “Yang saya tidak mengerti, kenapa mahasiswa bisa sampai tahu...”

“Barangkali cuma tebakan asal berujung gosip?” tukas Andrei sok tahu. “Yah, kan jumlah mahasiswa kita udah sedikit, sedangkan jumlah maba tahun ini cuma belasan... Kali aja,” imbuhnya dengan suara lebih kecil.

“Satu dari beberapa pertimbangan mereka.” Pak Wei Lian mengernyit padanya, mengangkat bahu. “Yang pasti, saya minta kalian berempat supaya jangan gembar-gembor dulu membicarakan masalah ini, mengerti? Saya pasti akan mengusahakan supaya hal itu tidak terjadi. Jurusan kita baru berdiri selama sepuluh tahun. Seharusnya masih ada kesempatan untuk berkembang...”

“Apa yang akan kalian lakukan pada para mahasiswa kalau prodi beneran ditutup?”

Barusan itu, Melanika yang bicara. Lebih tepatnya, dia menyela. Berani banget, pikir Ker agak takjub. Dan ternyata, dia peduli juga toh.

Rupanya tidak benar-benar ngeh akan kehadiran mahasiswa lain selain Andrei dan Ker yang daritadi bicara, sekarang Pak Wei Lian menoleh kepadanya. Alisnya berkerut, seperti setengah mencela kelakuan si mahasiswi yang tidak sopan, dan setengah berusaha mengenalinya.

“Ada beberapa kemungkinan,” jelasnya memulai lambat-lambat, “tapi jelas, pihak universitas tidak mungkin menelantarkan kalian separuh jalan tanpa ijazah. Apa kamu anak tingkat dua yang bernama Melanika Li?”

Yang ditanya cuma mengangguk singkat. Pandangan cewek itu meyoroti sang Kepala Jurusan seakan dia tidak puas dengan jawaban yang pria itu berikan, membuat Ker heran mengapa Pak Wei Lian tidak segera menempelengnya karena itu.

“Saya banyak mendengar tentang kamu, meski belum pernah mengajar kamu secara langsung,” katanya agak dingin. “Dan sepertinya saya juga hampir tidak pernah melihat kamu di sekitar sini. Kamu tidak pernah ikut kegiatan apa-apa ya?”

“Tidak pernah,” sahut Melanika pendek.

Pak Wei Lian mengangguk-angguk. Kerutan di dahinya menandakan bahwa dia sedang berpikir keras. “Baiklah,” ujarnya belakangan. “Sekarang, saya minta kalian semua kembali melakukan aktivitas masing-masing di luar ruangan ini. Saya harus kembali ke rapat. Tapi sebelumnya, saya minta kamu,” dia menatap Melanika tajam, “dan kamu, Kerwin, kalian berdua, tolong ke ruangan saya besok pagi jam setengah sepuluh pagi.”

Kerwin menatapnya dengan tidak percaya, lalu Melanika—yang hanya balik meliriknya sinis. “Kenapa?!” tanyanya agak keras. Dia sudah memutuskan bahwa dia tidak sudi bicara lagi atau bahkan berada di dekat cewek itu lebih dari lima meter, dan sekarang Kepala Jurusan meminta Ker menemuinya di kantor bersama cewek itu besok? Demi apa?

“Saya sibuk, Kerwin, dan kalau kalian benar-benar peduli mengenai masa depan kalian dan teman-teman kalian, saya minta kalian datang—ah tidak, kalian saya haruskan untuk datang besok pagi,” kata Pak Wei Lian buru-buru sambil berjalan ke arah pintu. “Bai Deng Deng!” panggilnya tiba-tiba, seakan baru teringat, “kamu tunggu di ruangan saya. Kurang lebih setengah jam lagi saya akan menemui kamu.”

Wajah Deng Deng berubah pucat seperti saat dia baru tiba di ruangan ini. Pintu ruang rapat berdebam menutup. Bahkan pada saat mereka berpamitan dengan Lilly-jiangshi yang suasana hatinya masih jelek (mungkin tadi kena marah?), dia masih tak habis pikir memahami maksud perkataan sang Kepala Jurusan. Masa depan apanya. Miliknya sendiri, jelas dia sangat peduli. Tapi apa urusan Ker dengan masa depan para mahasiswa pemalas di jurusan mereka?

Lalu kenapa harus bersama Melanika?

“Ciyee yang dipanggil Kajur besok.” Begitu mereka ada di kantin, Andrei langsung meledek.

“Kira-kira kenapa ya?” Tidak berniat membalas, Kerwin malah bertanya dari seberang meja. Benaknya dipenuhi berbagai hal yang tidak menyenangkan.

“Pasti ada hubungannya sama kabar barusan.”

“Menurut lu jurusan kita beneran bakal ditutup?”

“Nggak tahu juga,” kata Andrei sambil menggigit burgernya. “Tapi sebenernya wajar sih. Akreditasi baru C, jumlah mahasiswa minim, udah begitu peminatnya sedikit—namanya juga fakultas keguruan di universitas swasta. Bahasa Mandarin lagi...”

Kerwin memprotes, “Udah tau gitu kenapa lu masuk sini?”

“Ya lu sendiri kenapa emangnya?”

“Soalnya,” Kerwin mengambil jeda sejenak. “Pas tahun-tahun awal dibukanya, jurusan Bahasa Mandarin di kampus ini keliatan lumayan menjanjikan kan?”

“Kalo gue sih, karena gue tahu presenter yang lagi terkenal itu—Nuke Putra, juga alumni sini.”

“Hah? Emang lu mau jadi presenter?”

“Enggak sih, tapi ni zhi dao lah, jadinya kedengeran keren aja gitu.”

“Oh,” tukas Ker pendek, tak mau membahasnya lebih jauh. Tipikal Andrei. Kenapa masuk fakultas ini? Karena kedengarannya keren.

“Kenapa lu? Terus lu stres gitu karena jurusan kita mau ditutup? Ahahaha...”

“Gue rasa semua mahasiswa normal juga stres kalo denger jurusannya mau ditutup...” timpal Ker sebal.

“Udah, tenang aja,” kata Andrei yakin. “Separah-parahnya juga palingan kita dipindah ke jurusan FKIP lain...”

“Itu parah banget, nyet!”

“Lah kan belum pasti,” sahutnya lagi. “Lagian si William itu udah bilang kan, dia bakal ngusahain sesuatu. Hidup dibawa santai dikit napa sih, dasar bocah.”

Sungguh, Kerwin tidak paham kenapa Andrei bisa sesantai ini. Dia menggeram frustasi. “Oke, terus apa hubungannya sama besok dia manggil gue ke ruangannya? Sama... si cewek batu?”

“Itu dia yang misterius.” Andrei menyipitkan mata dan berpikir. “Mungkin karena lu berdua pinter, jadi dia punya rencana sendiri buat lu berdua?” Kemudian dia mendesah tragis. “Iya juga ya, pasti enak jadi mahasiswa unggulan di saat-saat kayak gini. Jangan-jangan lu berdua malah bakal dipindahin ke universitas luar negeri yang bagus...”

“Gitu ya?” Kerwin menimbang-nimbang. Kalau benar begitu, berarti kabar ini tidak seburuk sangkaannya.

“Terus lu berduaan menuntut ilmu sama Melanika dong. Ciyeeee...”

Suasana hati Ker langsung rusak lagi. “Amit-amit. Lu tuh ya...” Dan bukan hanya itu, dia juga teringat kekesalannya beberapa saat yang lalu di depan meja Lilly-jiangshi. “Ngapain sih pake mancing-mancing tuh cewek segala tadi?!”

“Soalnya lucu Ker, ngeliat lu sama dia,” jawab Andrei jujur sambil tertawa. “Daripada musuhan terus, siapa tau bisa jadi akur kalo ngobrol sekali-kali...”

“Nggak mungkin, nggak mungkin,” tepis Ker dengan gelengan. “Udah ah, gue cabut duluan ya.”

“Yah, dicengin sedikit aja udah ngambek lu, bocah.”

“Bukan, sial!” Ker membentak tak sabar. “Ada rapat Nir Wana abis ini. Udah telat setengah jam, malah.”

“Yaudah, gih sana.”

Setelah meninggalkan Andrei makan sendirian di kantin, Kerwin mendesah lega. Akhirnya, bisa juga dia mengambil napas dari semua hal-hal menyebalkan sepanjang hari ini.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar