Selasa, 14 Mei 2013

Tentang Kehilangan (mungkin besok-besok nulis tentang ini lagi)

Jadi, akhirnya saya mencicipi salah satu dari proses kedewasaan yang namanya kehilangan. Meski saya masih nggak yakin apakah saya tambah dewasa setelah mengalami ini, toh pada akhirnya kejadian ini semacam mendorong saya memutuskan beberapa hal yang tadinya saya tinggalkan menggantung di tengah jalan, salah satu yang terbesar adalah soal mau belajar Mandarin lagi (yea, saya pikir saya mau mulai belajar lagi dari nol, for the sake of that late beloved one. Toh saya percaya diri saya yang sekarang sudah lebih dari mampu untuk belajar bahasa asing lainnya). Another thing, kejadian ini ngasih saya gambaran jelas tentang sebuah tanggung jawab yang dimana tadinya saya selalu 'ditolong', padahal sejak lama, itu memang tanggung jawab saya sebagai anak pertama. Still another thing, saya semakin mantap mempertimbangkan mau menjadi seorang pengajar, just like her. Selain itu, saya juga nyadar betapa diri saya ini kualitasnya benar-benar masih harus dipoles. Mostly di bagian cengeng dan selalu bergantungnya.

Setelah saya mulai menjalankan itu semua, terlepas dari bagaimana pun hasilnya, baru mungkin saya bisa dibilang on the right track dalam proses menjadi dewasa. Ini semacam pukulan, yea, tapi jelas ada hikmahnya. Dan yang sudah pasti, dengan menggariskan kehilangan ini dalam hidup saya, Tuhan punya rencana baik. Buktinya, saya bisa menyadari hal-hal di atas.

Saya masih (more or less) kesal karena orang ini ditarik pergi dari hidup saya hanya setelah beberapa minggu persiapan, tapi saya berterima kasih karena kehadiran beliau dalam hidup saya, sejak dari bernafasnya saya sampai terakhirnya beliau Jumat kemarin, sudah membuat saya belajar sedemikian banyaknya hal tentang kehidupan. Dan bahkan kehilangan dia yang sekarang saya rasakan tujuannya untuk mendewasakan saya.

Bener ya, rasanya kehilangan itu ibaratnya lutut kepentok meja. Awalnya meringis kesakitan, terus berasanya yaudah, udah sembuh. Eh ternyata besok-besoknya membiru... kalau dipencet jadi sakit. -_- Begitupun saya, pasti berasa galau entah sampai kapan. Tapi move on itu harus. Kalau nggak kunjung move on, gimana saya bisa ngejalanin semua hal yang saya stated dengan (sok) puitis dan kerennya di atas?

RIP grandma. Suatu saat nanti, saya pasti bisa ngunjungin dirimu di rumah abu sambil berdoa dalam full bahasa Mandarin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar